Magetan (beritajatim.com) — Potensi bencana di Indonesia, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tidak dapat dipandang sebelah mata. Secara geologis dan geografis, Indonesia terletak di kawasan rawan bencana karena berada di antara tiga lempeng tektonik aktif: Pasifik, India-Australia, dan Eurasia. Kondisi tersebut diperparah dengan faktor hidrologis, demografis, dan sosiologis yang turut memengaruhi kerentanan wilayah terhadap bencana, baik alam, non-alam, maupun sosial.
Isu ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla yang digelar di Pendapa Surya Graha, Magetan, Rabu (30/7/2025). Administrator Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Lawu DS, Adi Nugroho, menegaskan pentingnya perlindungan kawasan hutan di wilayah tersebut.
“Kita harus memahami kawasan hutan di Magetan ini ialah kawasan hutan lindung,” jelasnya. Ia menyebut bahwa hutan Magetan bukan hanya sebagai sumber makanan, namun juga menjadi pusat spiritual masyarakat.
“Terkait kebakaran hutan ini menjadi bagian tanggungjawab kita semua agar dapat mencegah serta pengendalian agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan,” Adi menekankan.
Lebih lanjut, Adi mengingatkan bahwa karhutla bukan hanya permasalahan lokal, namun telah menjadi isu nasional karena dampaknya terhadap makhluk hidup, ekosistem, hingga kesehatan fisik dan mental masyarakat.
“Tentu ini sebagai bentuk kesiapsiagaan kita untuk menghadapi sekecil apapun risiko kebakaran hutan. Kita mengajak untuk menjaga alam dan sumber-sumber penghidupan kita karena khususnya kekuatan Magetan itu ada di gunung Lawu maka kita harus menjaga gunung Lawu agar tidak terjadi kebakaran hutan,” ungkap Adm KPH Lawu.
Senada dengan itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan, Eka Wahyudi, mengingatkan bahwa kawasan rawan karhutla tidak hanya di lereng Gunung Lawu. Beberapa titik lain seperti lereng Gunung Bancak, Blego, dan Bungkuk di wilayah Kecamatan Ngariboyo, Kawedanan, Parang, dan Lembeyan juga patut diwaspadai.
”Hutan rakyat ini biasa ditanami pohon jati yang daunnya berguguran saat kemarau. Nah, untuk membersihkannya ini biasanya langsung dibakar oleh para penggarap. Karenanya, kami akan kumpulkan penggarap hutan rakyat untuk edukasi terkait ini,” terang Eka. [fiq/but]






