Surabaya (beritajatim.com) – Terapi IV atau terapi intravena adalah metode untuk memberikan cairan obat secara langsung ke dalam vena. Karena menggunakan drip chamber atau ruang tetes, infus seringkali diistilahkan sebagai tetesan.
Sedangkan obat yang masuk melalui intravena disebut obat khusus, biasanya dikaitkan dengan penyembuhan penyakit, tetapi dalam hal pembuatan kayu termahal di dunia, infus IV adalah sarana untuk memberikan racun.
Sekitar seminggu yang lalu, beberapa foto yang menunjukkan tetesan infus besar berisi cairan yang tampak meragukan yang tergantung di pohon menjadi viral di media sosial China, memicu berbagai macam reaksi dari orang-orang.
Beberapa orang bertanya-tanya apakah itu adalah instalasi seni yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang penggundulan hutan yang merajalela yang terjadi dalam skala global, atau tentang kehidupan tanaman pembunuh polusi buatan manusia, sementara yang lain yakin bahwa itu adalah metode perawatan asli yang dirancang untuk menyelamatkan pohon dari jamur atau parasit lainnya. Bahkan ada yang mengatakan vandalisme, bahwa tas-tas itu berisi air kencing manusia. Semua teori ini ternyata salah.
Awalnya diposting di grup Facebook “Akademi Observasi Jalan”, kedua foto tersebut memperlihatkan puluhan tas infus besar yang tergantung di dahan pohon dan tabung hijau dengan jarum besar yang masuk ke batang pohon. Tapi ternyata cairan di dalam kantong itu bukanlah pengobatan, melainkan racun yang dirancang untuk mengaktifkan mekanisme pertahanan diri pohon dan dengan demikian menciptakan kayu termahal di dunia.
Kynam, atau “kyara” seperti yang dikenal di Asia, adalah jenis gaharu (oud) yang sangat langka yang digunakan dalam industri parfum dan dupa karena aromanya yang kompleks dan sangat kuat. Menariknya, inti kayu pohon aquilaria relatif tidak berbau, tetapi dalam kondisi tertentu, pohon tersebut menghasilkan sejenis resin gelap yang menciptakan kayu gaharu yang berharga. Dan di situlah terapi IV berasal.
Selama ratusan tahun, manusia telah mengetahui bahwa aquilaria hanya menghasilkan gaharu sebagai respons terhadap suatu jenis stres, tetapi baru-baru ini diidentifikasi sebagai ‘phialophora parasitica’, sejenis jamur. Pada satu titik, juga diketahui bahwa dengan penelitian gaharu dapat diciptakan lebih instan dengan menginfeksi pohon aquilaria secara artifisial dengan parasit untuk merangsang produksi damar yang berharga, dan sekarang ada perkebunan gaharu di seluruh Asia, dari Indonesia hingga Myanmar dan Vietnam.
Meskipun gaharu perkebunan tidak semahal gaharu liar yang usianya bisa ratusan tahun, namun tetap dianggap sebagai salah satu bahan termahal di dunia. [adg/beq]






