Politik Pemerintahan

PWI Jombang Membincang Perjuangan KH Wahab Chasbullah

Narasumber sarasehan (kiri ke kanan); Ulfah Masfufah, Choirul Anam (Cak Anam), KH Abdul Mun'im DZ, Rabu (17/3/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Selain menggelar pelantikan pengurus periode 2021-2024, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jombang juga mengadakan sarasehan nasional bertema ‘Meneladani KH Wahab Chasbullah, Membangkitkan Spirit Perjuangan Lewat Tulisan’, Rabu (17/3/2021).

Narasumber yang dihadirkan di antaranya Sekretaris PP (Pengurus Pusat) Muslimat NU, yang juga Wakil Ketua Kyai Wahab Chasbullah Foundation, Ulfah Masfufah. Kemudian H. Abdul Mun’im, DZ (Wakil Sekjend PBNU, serta Choirul Anam atau cak Anam (tokoh Pers Jatim yang juga sejarawan NU).

Para narasumber tersebut membeberkan kiprah Kiai Wahab dari segala sisi. Mulai nyantri di sejumlah pondok, hingga melakukan gerakan mendirikan organisasi. Mulai perjuangan Mbah Wahab lewat organisasi, lewat media massa, lewat jalur militer, hingga lewat jalur politik.

“Upaya mendirikan NU sudah dilakukan Kiai Wahab sejak 1916. Pada tahun itu Kiai Wahab mendirikan Nahdlatul Wathon, lalu mendirikan Tasfirul Afkar, serta pada 1918 mendirikan Nahdlatul Tujar. Baru pada 1926 secara resmi mendirikan NU (Nahdlatul Ulama) bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dan KH Bisri Syansuri. “Mbah Wahab itu peletak dasar NU,” ujar Cak Anam.

Dalam forum tersebut, Cak Anam juga membawa bukti otentik berupa kartu tanda anggota parlemen milik KH Wahab Chasbullah. Kartu tersebut dikeluarkan pada 1956 atau satu tahun setelah pemilu pertama digelar. Kiai Wahab menjadi anggota parlemen dari Partai NU.

“Banyak yang menyebut Kiai Wahab lahir pada 1888 masehi. Namun saya menulis tahun kelahiran Kiai Wahab pada 1887. Ini bukti otentiknya,” kata Cak Anam sembari menunjukkan kartu anggota parlemen tahun 1956 milik KH Wahab Chasbullah.

Sementara itu, Wasekjen PBNU KH Abdul Mun’im DZ mengatakan bahwa Kiai Wahab merupakan seorang yang memahami pentingnya perjuangan melalui media massa. Oleh karena itu, pria kelahiran Tambakberas Jombang ini rajin menulis opini atau menulis kegiatan NU di media massa. Bahkan Kiai Wahab juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO).

Para undangan yang menghadiri sarasehan nasional PWI Jombang tentang KH Wahab Chasbullah, Rabu (17/3/2021)

Majalah dengan tulisan arab pegon ini didirikan sekitar 1927 atau setahun setelah NU lahir. “Saya selama 10 tahun mengumpulkan tulisan-tulisan Kiai Wahab di berbagai media. Pemikirannya sangat solutif,” ujar penulis buku ‘KH Abdul Wahab Chasbullah: Kaidah Berpolitik dan Bernegara.

Secara garis besar, lanjut Mun’im, perjuangan Kiai Wahab berada di tiga ruang. Pertama, perjuangan melalui media massa. Lewat tulisan, pendiri NU ini melontarkan gagasan semangat kebangsaan. Kemudian perjuangan politik melalui garis partai.

“Terakhir perjuangan melalui jalur militer/perang bersenjata. Kiai Wahab ini juga berjuang lewat medan laga. Beliau membentuk laskar-laskar untuk berperang melawan penjajah,” kata Wakil Sekjen PBNU yang pernah menulis buku putih NU; Benturan NU-PKI 1948-1965.

Wakil Ketua Kiai Wahab Chasbullah Foundation, Ulfah Masfufah, lebih banyak menjelaskan tentang lembaga yang terus mengumpulkan pemikiran Kiai Wahab. Lembaga ini didirikan oleh putra/putri KH Wahab Chasbullah. Di antaranya, Hj Mukhtamarah, Hj Mahfudloh, Hj Hizbullah, Hj Mundjidah, KH Roqib Wahab, dan KH Hasib Wahab.

Menurut cucu KH Wahab ini, tujuan besar lembaga tersebut didirikan agar cita-cita dan perjuangan Mbah Wahab Chasbullah makin mudah direalisasikan pada zaman sekarang. “Lembaga ini memiliki program utama, yaitu bidang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan. Kami sudah memberikan beasiswa 100 mahasiswa,” ujarnya Sekretaris PP Muslimat NU ini.

Menurut Ulfah, pemikiran, gagasan, semangat KH Abdul Wahab Chasbullah harus terus dilestarikan kepada dzurriyah, santri, dan alumni, serta generasi zaman ini. Sehingga mereka memahami tentang nasionalisme, kebangsaan. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar