Sidoarjo (beritajatim.com) – Cagub Jatim (Calon Gubernur Jawa Timur) nomor urut 02 Khofifah Indar Parawansa berkunjung ke Sentra Telur Asin Desa Kebonsari Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, Senin (14/10/2024).
Peternak bebek di sentra telur asin Desa Kebonsari memanfaatkan limbah industri olahan ikan sebagai pengganti pakan ternak. Pernyataan itu disampaikan Nur Hadi Ketua Kelompok Kampung Sentra telur asin, di depan Khofifah.
“Telur-telur asin yang dihasilkan di kampung Kebonsari Candi, memilik ciri khas berbeda dari telur lainnya karena makanan yang diberikan ternak memiliki nilai gizi tinggi,” ucapnya.
Menurutnya limbah industri olahan ikan seperti kepala udang dan cangkang kupang memilik nilai gizi tinggi yang dapat menjadikan telur asin bebek lebih tinggi nilai gizinya.
Dia berharap kelompoknya dapat lebih diperhatikan oleh pemerintah baik dari pemasaran dan pendampingan pengelolaan untuk menjangkaunya pasar yang lebih luas. “Kami ingin pemerintah hadir mendampingi,” harapnya.
Sementara itu Cagub Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berjanji selalu berpihak pada UMKM. Dia bersyukur UMKM di Jawa Timur terus tumbuh positif dan produktif.
Khofifah menyebutkan, pelaku UMKM harus bisa mengembangkan lebih luas lagi dalam konektivitas dan terbangun secara baik. “Kuncinya usaha yang terintis harus punya konektivitas dan mencari terobosan-terobosan yang baik dalam pengembangan usaha dan juga produktifitas,” terangnya.
Khofifah mencontohkan salah satu teman perempuan yang bersama mendampingi ke Kampung Bebek Kebonsari mempunyai usaha rumah makan yang cukup besar di 16 titik kota seluruh Indonesia.
“Pegawai di rumah makan teman saya ini juga banyak, setiap hari omsetnya cukup besar karena konektifitas yang terbangun berjalan secara baik,” urai pasangan Cawagub Emil Dardak itu.
Masih menurut mantan Menteri Sosial era Presiden Jokowi pertama itu, konektivitas itu penting. Termasuk soal hasil produksi telur asin memilik ciri khas berbeda dengan lainnya karena mengandung gizi tinggi, para pelaku UMKM harus ada story telling atau perlu ada cerita-cerita yang membuat produksinya semakin dikenal secara luas.
“Karena kalau kita bersaing harganya sangat murah sekali, dari produk harus dipertahankan dan jika perlu ada cerita-cerita di baliknya, (story telling) soal kandungan gizi yang tinggi dan lain sebagainya. Dalam promosi juga disertakan story telling yang ada,” sebutnya menutup. [isa/suf]







