RINGKASAN BERITA:
- Layanan bus shalawat di Makkah dihentikan sementara setiap Jumat mulai pukul 11.00 hingga 14.00 WAS.
- Penangguhan operasional bertujuan mengurai kepadatan lalu lintas di sekitar Masjidil Haram saat pelaksanaan salat Jumat.
- Jemaah haji Indonesia diimbau mengatur jadwal keberangkatan ke hotel untuk menghindari penumpukan di terminal.
- Hingga hari ke-24 operasional, tercatat 152.724 jemaah Indonesia telah tiba di Arab Saudi di tengah cuaca panas ekstrem.
Makkah (beritajatim.com) – Operasional bus shalawat yang melayani transportasi jemaah haji Indonesia dari hotel menuju Masjidil Haram di Makkah akan dihentikan sementara setiap hari Jumat mulai pukul 11.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi (WAS).
Kebijakan penangguhan selama tiga jam ini diterapkan guna mengurai kepadatan lalu lintas dan memastikan kelancaran arus pergerakan massa menjelang serta sesudah pelaksanaan salat Jumat di jantung kota suci.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pengaturan ini bersifat situasional untuk menjaga kenyamanan jemaah di tengah suhu panas yang saat ini menyentuh angka 42 hingga 43 derajat Celsius.
Penghentian layanan sementara ini sangat krusial mengingat kapasitas jalanan di Makkah akan diprioritaskan bagi pejalan kaki dan pengaturan alur bus pengumpan agar tidak terjadi kemacetan total.
Kepala Terminal Syib Amir Makkah, Dr. Iswan Brandes, menjelaskan bahwa kebijakan ini telah melalui perhitungan teknis untuk mendukung mobilitas jemaah. “Pada hari Jumat, layanan pergerakan jemaah haji dari hotel menuju Masjidil Haram melalui bus shalawat akan ditangguhkan sementara mulai pukul 11.00 sampai 14.00 waktu Arab Saudi,” ujar Dr. Iswan Brandes di Makkah.
Tujuan utama dari penghentian sementara ini adalah untuk mempermudah pengaturan lalu lintas bus di terminal-terminal besar seperti Syib Amir dan Terminal Jabal Ka’bah. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang kini mencapai 152.724 orang dari 395 kelompok terbang (kloter), penumpukan di terminal pada jam-jam sibuk salat Jumat dapat berisiko terhadap keselamatan jemaah, terutama lansia dan disabilitas.
“Kami ingin memastikan seluruh operasional berjalan lancar dan pelayanan kepada jemaah tetap maksimal. Karena itu diperlukan pengaturan arus jemaah pada waktu-waktu tertentu, khususnya menjelang dan setelah salat Jumat,” jelas Iswan. Kebijakan ini juga untuk memberikan ruang bagi otoritas keamanan Arab Saudi dalam mengatur sterilisasi jalur di sekitar area perluasan Masjidil Haram.
Jemaah haji Indonesia, termasuk dari embarkasi Surabaya (SUB) yang mendominasi pemondokan di wilayah Misfalah dan Mahbas Jin, diminta untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan.
Jika ingin melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram, jemaah disarankan berangkat lebih pagi sebelum pukul 10.00 WAS. Sebaliknya, jika tidak mendapatkan tempat di dalam masjid, jemaah diimbau salat Jumat di musala hotel guna menghindari risiko kelelahan akibat panas ekstrem.
PPIH Arab Saudi berharap seluruh pihak, termasuk ketua kloter dan pembimbing ibadah, aktif mensosialisasikan jadwal ini. “Kami mengharapkan kerja sama dan koordinasi dari semua pihak agar operasional berjalan lancar dan pelayanan kepada jemaah haji dapat dilakukan sebaik mungkin,” pungkas Brandes.
Layanan bus shalawat akan kembali beroperasi normal segera setelah pukul 14.00 WAS untuk menjemput jemaah kembali ke pemondokan masing-masing. Jemaah tetap diimbau membawa perlengkapan pelindung seperti payung dan rutin meminum air mineral minimal 200 ml per jam selama menunggu bus di terminal. [ian/MCH]






