Pertandingan Persis Solo melawan Persebaya Surabaya di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (1/7/2023), seharusnya menjadi standar pertandingan Liga 1 musim 2023-24. Sebuah pertandingan beroktan tinggi yang meledak dengan gol-gol cantik. Tempo pertandingan tak kendor selama 90 menit plus tambahan waktu. Pertahanan terbaik adalah menyerang. Ngeyel. Penonton yang tertib namun tak berhenti berteriak dan bernyanyi.
Persebaya menang 3-2. Tiga gol Persebaya dicetak Bruno Moreira pada menit 30 melalui titik penalti dan 64 serta gol bunuh diri M, Faqih pada menit 84. Gol balasan Persis dicetak Moussa Sidibe pada menit 60 dan Ramadhan Sananta pada menit 63.
Lima gol yang dicetak sepanjang pertandingan ini menyenangkan penonton netral, namun berpotensi bikin jantung pendukung kedua tim tidak baik-baik saja. Lima gol tersebut adalah konsekuensi permainan menyerang yang atraktif. Namun lima gol ini juga menunjukkan bolong dalam sektor pertahanan kedua tim.
Pelatih Aji Santoso masih belum bisa memperbaiki kualitas pertahanan Persebaya yang sudah disoroti Bonek dalam pertandingan-pertandingan pramusim. Persebaya belum bisa menemukan bek setangguh Rizky Ridho yang hengkang ke Persija Jakarta.
Dusan Stevanovic, bek tengah asal Serbia, belum sepenuhnya beradaptasi dengan gaya main cepat tim Liga Indonesia. Menit ketiga, bola yang seharusnya sudah bisa dikuasainya di sektor pertahanan kiri Persebaya, justru bisa direbut Messidoro. Beruntung Ernando berhasil melakukan dua kali penyelamatan dari bola tendangan Sidibe.
Gol kedua Persis yang dicetak Ramadhan Sananta juga akibat kegagalan Dusan memotong umpan terobosan Alexis Messidoro. Dusan tak mampu mengimbangi kecepatan lari striker tim nasional Indonesia tersebut.
Dusan juga masih belum memiliki komunikasi yang bagus dengan duetnya di sentral pertahanan Kadek Raditya. Bisa jadi karena faktor bahasa. Apalagi Dusan adalah pemain asing terakhir yang bergabung dengan skuat yang diramu Aji Santoso. Ini harus segera dibenahi jika Aji ingin memakai taktik high pressing dan memasang garis pertahanan setinggi mungkin.
Di sisi kanan, Arief Catur masih melakukan beberapa kesalahan mendasar. Dia beberapa kali salah oper. Keterlambatannya kembali ke sektor pertahanan membuat Kadek harus berhadapan langsung dengan Messidoro. Kegagalan Kadek menekel pemain asal Argentina itu mengawali proses gol Sidibe.
Namun keberanian Catur maju menerobos pertahanan Persis juga harus dipuji. Tekel yang dilakukan penjaga gawang Persis Gianluca Pandeynuwu terhadap Catur yang mengejar bola operan Sho Yamamoto berujung hukuman 12 pas.
Di tengah berimbangnya pertarungan kedua tim, Ze Valente menjadi pembeda. Kecerdasan umpan-umpannya membuat pemain belakang Persis kelabakan. Sejumlah umpan dari Pemain asal Portugal itu menjadikan arah serangan Persebaya tidak tertebak. Tidak bisa tidak, Ze adalah ruh permainan Persebaya. Apalagi di sektor tengah ada Rifal Wahyudi yang bertugas membuntu aliran bola Persis dan membuat Ze bermain lebih nyaman.
Bruno Moreira, pemain asal Brasil, adalah faktor lain yang membuat pertahanan Persis harus bekerja keras. Pergerakannya di sayap kiri membuahkan gol balasan bagi Persebaya yang tertinggal 1-2.
Selain menghadirkan ketegangan, pertandingan di Manahan ini mempertegas fakta perlunya Liga 1 memakai jasa VAR (Video Assistant Referee). VAR adalah sistem perangkat pertandingan resmi untuk membantu wasit di lapangan melalui pengecekan visual, agar bisa memberikan keputusan tepat dalam situasi yang luput dari pantauan matanya. Sebuah detail kecil bisa menentukan hasil akhir pertandingan dan bahkan hasil akhir kompetisi.
Jika saja VAR diberlakukan, boleh jadi Persis mendapat hadiah penalti setelah David Gonzales asal Spanyol diganjal di dalam kotak terlarang. Skor pun bisa berakhir imbang. VAR juga berguna untuk mempertimbangkan posisi offside yang beberapa kali terjadi cukup tipis.
Kritik paling penting terhadap VAR adalah sistem ini menghilangkan keindahan sepak bola yang dimunculkan oleh kesalahan manusiawi perangkat pertandingan. Sepak bola adalah permainan manusia. Manusia jelas bukan robot yang harus selalu presisi dan sempurna. Andai saja VAR diberlakukan pada Piala Dunia 1986, tidak akan ada yang membicarakan gol ‘Tangan Tuhan’ Maradona ke gawang Inggris hingga puluhan tahun kemudian. Inggris dongkol. Tapi itulah sepak bola.
Kita tak menampik kritik terhadap VAR tersebut. Namun di tengah defisit kepercayaan publik sepak bola Indonesia terhadap wasit, VAR saat ini adalah alternatif yang layak dicoba. Namun tentu saja, PSSI juga harus memastikan, orang-orang di dalam ruang kendali VAR haruslah berpengalaman dan berintegritas. Jika tidak, ya sama saja dengan memindahkan medium pertengkaran dan ketidakpercayaan. [wir]






