Situbondo (beritajatim.com) – Kemenangan pasangan Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wakil Bupati Ulfiyah tak lepas dari dukungan dan ikhtiar tim sukses maupun Koalisi Kebersamaan yang terdiri atas PKB, PPP, Hanura, Nasdem, PSI, Partai Golkar, dan PDI Perjuangan saat pilkada. Di DPRD Situbondo, koalisi ini menguasai 35 kursi dari 45 kursi parlemen.
Selain itu Rio mendapat dukungan dari komunitas dua pondok pesantren besar di Situbondo, yakni Walisongo yang diasuh KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin dan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang diasuh KHR. Ach. Azaim Ibrahimy.
Walisongo memiliki preferensi politik dengan Partai Kebangkitan Bangsa yang memiliki 12 kursi parlemen dan Sukorejo identik dengan Partai Persatuan Pembangunan yang memiliki sembilan kursi di DPRD Situbondo. Ulfiyah sendiri adalah politisi PPP.
Bagaimana Bupati Rio menjaga relasi dengan Wabup Ulfiyah, kalangan ulama, dan merawat keutuhan koalisi partai pendukung di DPRD Situbondo selama setahun masa pemerintahannya?
Di sela-sela perjalanan dinasnya ke Surabaya, Kamis (19/2/2026), Rio bersedia melayani wawancara Beritajatim.com melalui hubungan telepon seputar tahun pertama pemerintahannya. Ini bagian kedua dari wawancara tersebut.
Beritajatim.com:
Bagaimana memanajemen ekspektasi tim sukses maupun partai politik pendukung setelah pilkada?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Itu kuncinya kembali ke bupati dan wakil bupati. Kalau bupati dan wakil bupati terkesan ingin mengakumulasi kapital, terkesan ingin main proyek, terkesan ingin mengelola segala sumber daya, pasti akan ada protes dari sana-sini.
Saya tidak ingin mengatakan, bahwa ekspektasi dari tim sukses itu tidak muncul. Ada, tapi berhasil kita kendalikan.
Dengan cara apa? Saya mengatakan, bahwa (penanam) investasi politik paling besar adalah Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Modal politik paling besar dan modal materi paling besar ya (saya sebagai) bupati.
Tapi apakah bupati kemudian menikmati dan berusaha ingin menikmati? Mereka akhirnya melihat itu semua (tidak saya lakukan) dan mau tidak mau menurunkan ekspektasi tersebut.
Saya pernah mengumpulkan beberapa kontraktor. Saya katakan: ‘Anda enggak pernah memberikan donasi ketika saya kampanye. Tapi Anda yang menikmati sekarang’.
Maka saya bilang: ‘Ayo sama-sama. Anda bikinlah perkumpulan, bantu saya mengurangi kemiskinan. Dengan cara apa? Perbaikilah rumah-rumah warga yang tidak layak huni’.
Beritajatim.com:
Bagaimana hasilnya?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Sejauh ini bukan tidak ada protes, tapi mereka berhasil diberi pemahaman. Tapi kalau saya terkesan mengembalikan modal, ingin mengakumulasi kapital, pasti akan ada tarik-tarikan di situ. Itu soal materi
Beritajatim.com:
Bagaimana dengan koalisi partai politik pendukung?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Saya selalu bilang, saya punya dua wajah. Satu wajah sebagai kepala daerah, satu wajah sebagai politisi. Bagaimanapun seorang pemimpin yang dipilih secara politik adalah seorang politisi. Tanggung jawab saya adalah bagaimana koalisi bisa terjalin dan terjaga, dengan tadi yang saya ceritakan sebelumnya.
Akhirnya Gerindra yang kemarin tidak mendukung saya, sekarang baik dan menyatakan diri bergabung bersama (koalisi pendukung) Pemerintah Kabupaten Situbondo.
Jadi lagi-lagi poinnya adalah bagaimana kita meyakinkan masyarakat, tim sukses, partai koalisi, bahwa kita punya niatan yang tidak aneh-aneh untuk Situbondo. Fokusnya ingin membangun Situbondo dan hasilnya juga tampak.
Contoh: pembangunan kawasan Besuki, bandara militer, angka kemiskinan turun dari lain-lain. Jalan-jalan yang sebelumnya tidak pernah dibangun sama sekali kini dibangun. Semua dikembalikan ke masyarakat Situbondo. Mau tidak mau mereka (partai politik) akhirnya ketarik juga. Mereka yang mau mengoptimalkan kepentingannya akhirnya berpikir ulang.
Beritajatim.com:
Saat pilkada Anda, didukung dua pondok pesantren besar di Situbondo, yakni Walisongo yang diasuh KHR. Kholil As’ad Syamsul Arifin dan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang diasuh KHR. Ach. Azaim Ibrahimy. Sejauh ini bagaimana relasi dengan mereka setelah Anda memenangi pilkada dan memimpin Situbondo?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Sebagai pemimpin, saya menjaga. Sebagai pemimpin, saya harus bersikap adil, dalam komunikasi, dalam berperilaku, semuanya harus adil, karena itu modal politik kami berdua (bersama Ulfiyah). Sekuat mungkin ini kami jaga.
Apa tidak ada yang ingin merobohkan dan menghancurkan? Oh, banyak, karena pasti ada orang atau kelompok yang merasa tidak mendapat keuntungan dari persatuan politik ini. Pastilah, penumpang gelap selalu ada. Upaya itu sudah muncul.
Tapi alhamdulillah apapun kami komunikasikan dengan Kiai Kholil dan Kiai Zaim. Apapun itu. Puncaknya, saat ada pengajian (untuk pembangunan) Bandara KASA (KHR As’ad Syamsul Arifin), beliau berduduk bersama dan banyak sekali orang menangis haru. Selama ini beliau berdua dipersepsikan dalam posisi diametral oleh publik. Itu salah satu moment of truth dalam perjalanan karir politik saya di Situbondo.
[Catatan: Bandara KHR As’ad Syamsul Arifin adalah bandara militer yang akan dibangun di kawasan Banongan, Desa Wringin, Kecamatan Asembagus, 16 Desember 2025. Bandara itu tak hanya akan digunakan untuk kepentingan militer, tapi juga untuk penerbangan kemanusiaan, kebencanaan, hingga penerbangan sipil. Dengan landasan pacu sepanjang 2.500 meter, pesawat berbadan besar seperti Airbus dan Boeing berpotensi mendarat di Situbondo.]
Beritajatum.com:
Bagaimana menjaga relasi dengan Wakil Bupati Ulfiyah?
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo:
Kami punya guru, kami punya kiai, kami punya cita-cita yang sama. Saya mengatakan: “Ayo, Mbak, jaga itu, Jaga, jangan cuma enam bulan, satu tahun, tapi sampai selesai harus dijaga.
Saya memperlakukan Mbak Ulfi tidak sebagai lawan politik atau sebagai lawan dalam selimut, tapi benar-benar sebagai partner. Misalnya nih, rapat TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) sebelumnya, wakil bupati tidak pernah diajak. Tapi kalau di era saya, Mbak Ulfi belum datang, rapat enggak kita mulai. Ini bagian dari upaya akuntabilitas dan transparansi ke wakil bupati. Bagaimana memerankan dia.
Ketika melihat Mbak Ulfi, saya tidak hanya melihat sosok Mbak Ulfi pribadi, tapi melihat dukungan kultural yang kuat di situ. Representasi, proximity-nya. Ini yang kemudian saya jaga, saya berkomitmen menjaga.
Alhamdulillah, sejauh ini sangat suportif dan saling mendukung. Luar biasa. Saya bersyukur punya partner seperti Mbak Ulfi. Pun demikian, ketika ditanyakan Mbak Ulfi, beliau pasti bersyukur punya bupati seperti saya, karena saling melengkapi. Tanpa ada sekalipun ‘jealous‘ otoritas
Mbak Ulfi tahu posisi. Saya juga tahu bagaimana menghargai Mbak Ulfi. Kami bareng-bareng bangun semuanya. Semua langkah politik, langkah pemerintahan, langkah sosial, semuanya terkonfirmasi ke Mbak Ulfi. Mbak Ulfi pun begitu. Apapun langkahnya pasti mengonfirmasi kepada saya. [wir]






