Situbondo (beritajatim.com) – Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo akan menggelar ‘Investor Day’ di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, setelah libur lebaran untuk menarik investasi.
“Saya butuh investasi untuk menggerakkan ekonomi Situbondo,” kata Rio kepada Beritajatim.com, Senin (7/4/2025). Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Situbondo sebesar Rp 1,7 triliun terlalu kecil untuk menyelesaikan persoalan pembangunan.
Rio meminta jajaran birokrasi tidak hanya menunggu datangnya investor. “Investasi baru masuk kalau kita proaktif,” katanya.
Rio mencontohkan investasi Mie Gacoan yang sempat dipersoalkan lembaga swadaya masyarakat, karena salah satu syarat pendirian usaha belum terpenuhi. “Saya bilang kepada jajaran saya: jemput bola, datangi mereka (Mie Gacoan), jangan menunggu,” katanya.
Menurut Rio, untuk Februari 2025, Mie Gacoan menyumbangkan pajak untuk daerah sebesar Rp 48 juta. “Ini real time. Ada papan pajaknya,” katanya.
Logika berpikir birokrasi Pemkab Situbondo, menurut Rio, harus dibalik. “Ketika ada investasi mau masuk, kita harus mendatangi investor dan tanya apa yang bisa dibantu. Bukan mereka yang harus keliling ke dinas-dinas,” katanya.
Ada puluhan investor swasta yang berpotensi mengikuti Investor Day Pemkab Situbondo. “Kalau uang pemerintah tidak bisa dibilang investasi. Ini murni swasta. Target Rp 100 miliar untuk local heroes saja tergolong kecil. Kalau dengan UMKM bisa lebih,” kata Rio. Potensi Situbondo cukup besar untuk sektor pariwisata maupun pabrik.
Salah satu investasi yang sudah dibidik Rio adalah pembangunan hotel di atas aset tanah dan bangunan milik PT Pos Indonesia yang berdekatan dengan alun-alun Situbondo. Ia punya hubungan baik dengan petinggi PT Pos Indonesia. “Saya bilang: Bang, ini ada aset Abang di sini. Bagus kalau dibikin hotel,” katanya.
Pembangunan hotel tersebut tidak mengandalkan dana penyertaan modal APBD Situbondo. Rio memilih menjadi mediator dengan investor. “Dari kontak HP saya saja, empat orang sudah setuju berinvestasi. Kalu dihitung-hitung terkumpul Rp 8 miliar dari kebutuhan Rp 30 miliar,” katanya.
“Cuma saya bilang, walaupun ini investor internasional ataupun investor nasional, saya tetap minta slot untuk investor lokal atau local hero. Karena ada di Situbondo ini orang yang kaya, punya uang, dan ketika saya floor-kan itu, mereka tertarik untuk berinvestasi,” kata Rio.
Investasi mereka tak harus sangat besar. “:Bahkan cuma Rp 1 miliar, Rp 2 miliar, tapi ada sekitar 10 sampai 15 orang, itu cukup membantu,” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Jember ini.
Keikutsertaan investor lokal juga bisa menjadi bagian dari strategi pasar. “Meskipun dia punya satu persen atau dua persen, dia akan klaim itu hotelnya. Jadi dia akan promo itu secara gratis,” kata Rio.
Di luar itu, Rio juga telah mengumpulkan berbagai komunitas, termasuk komunitas hobi dan pelaku usaha mikro kecil menengah. “Saya katakan, kita ini tidak dianugerahi sumber daya alam. Beda dengan Bojonegoro, beda dengan Bengkalis, beda dengan Kutai Kartanegara,” katanya.
“Tapi kita dianugerahi Tuhan jalur lintas dagang utama. Jalur ekonomi besar dari pulau Bali ke pulau Jawa. Nah, itu yang harus dimanfaatkan. Saya akan membuka akses itu, dengan penguatan di sektor informal: UMKM,” kata Rio.
Rio ingin semua kegiatan produktif didekati dengan paradigma UMKM. “Teman-teman fotografer ini UMKM. Pertanian kita itu harus didekati dengan paradigma UMKM. Makanan kuliner kita harus didekati dengan paradigma UMKM, entrepreneur,” katanya.
“Saya akan bikin inkubator bisnis. Silakan teman-teman nanti yang butuh permodalan akan disubsidi bunganya oleh pemerintah. Jadi kalau kalau teman teman UMKM ini butuh modal Rp 10 juta sampai sekian puluh juta. kita hadirkan banknya, kemudian kita jadikan bank itu sebagai mentoring system-nya. Lemudian pemasarannya nanti kita yang akan carikan,” kata Rio.
Hal ini dilakukan Rio karena menyadari problem yang dihadapi UMKM selama ini. “Kendala UMKM itu kan tiga: permodalan, pendampingan, dan pemasaran. Maka kita bikin inkubator bisnis atau dalam bahasa ekonomi disebut middle instrument, instrumen menengah dari hulu ke hilir. Atau creative hub,” katanya.
Rio sudah menghitung, setidaknya Pemkab Situbondo hanya perlu mengeluarkan dana Rp 2-3 miliar tiap tahun untuk membayari bunga pinjaman UMKM di bank. “Jadi UMKM tidak punya kekhawatiran atas bunga itu,” katanya. [wir]






