Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto mengakui belum maksimal menyentuh pasar tradisional di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Jember baru akan merevitalisasi pasar tradisional pada 2023 dan 2024.
Pemkab Jember sudah menandatangani nota kesepahaman dengan pihak ketiga untuk revitalisasi. “Kalau tidak salah partner dari Bandung mau mengelola beberapa pasar. Sudah kami bikin MOU (Memorandum of Understandin), tapi sampai sekarang belum ada gerakan cepatnya,” kata Hendy, Rabu (21/6/2023).
Menurut Hendy, jika rekanan tersebut tidak segera bergerak, maka Pemkab Jember akan melangkah untuk mengelola sendiri pasar tradisional secara profesional. “Saya yakin tidak terlalu sulit untuk melakukan itu,” kata pria yang berlatar belakang pengusaha ini.
Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jember 2021-2026, ada 22 pasar tradisional yang sudah direvitalisasi pada 2019 dan ada 30 unit pasar tradisional yang buka selama 18 jam per hari pada 2020. Namun pada 2020 tidak ada revitalisasi pasar di Kabupaten Jember.
Tahun 2017 tercatat omzet pasar tradisional di seluruh Jember mencapai Rp 1,496 triliun. Sementara itu kontribusi pasar tradisional terhadap pendapatan asli daerah pada 2020 sekitar Rp 7,817 miliar. Dalam RPJMD disebutkan, capaian omzet pasar tradisional per tahun terhambat karena pelaksanaan kegiatan yang memerlukan pihak ketiga.
“Pasar tradisional adalah bagian dari kunci kekuatan di luar UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Kalau UMKM bisa zigzag, ibarat kalau main sepak bola, ke mana-mana bisa, kalau pasar tradisional menetap. Tentunya harus ada sentuhan-sentuhan yang bagus dari pemerintah, supaya masyarakat sekitar betul-betul nyaman datang ke sana, Para penjual pun nyaman,” kata Hendy.
Hendy mengakui kebijakannya saat ini terkesan lebih banyak diperuntukkan pelaku UMKM dan PKL. Sejumlah kegiatan besar yang menggerakkan perekonomian lebih banyak melibatkan UMKM dan PKL di pusat kota, seperti acara nonton bareng pertandingan sepak bola yang dilengkapi bazaar.
Hendy rela jika kemudian gara-gara kebijakan itu ada yang menyebutnya ‘Bapake UMKM’. “Walau sebetulnya bupati Jember ini bapak semuanya,” katanya.
Hendy menegaskan, kebijakan saat ini yang lebih banyak dinikmati UMKM tak lepas dari kondisi pasca pandemi. “Mereka kekuatan sosial kita. Pasca Covid ini, kita harus melakukan kegiatan cukup besar berulang-ulang agar UMKM bisa mengeksplorasi keinginan mereka. Kami juga bekerja sama dengan perbankan agar kredit untuk UMKM terealisasi dan memacu UMKM untuk menyelesaikan utang ke perbankan segera,” katanya. [wir]






