Banyuwangi (Beritajatim.com) – Pemkab Banyuwangi melakukan inovasi baru dengan melaunching dua program layanan sekaligus, di ruang Rempeg Jogopati, Selasa (24/6). Program tersebut yakni Sniper Inklusi dan Lentera Banyuwangi.
Launching program tersebut dilakukan oleh Bupati Ipuk Fiestiandani bersama perwakilan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pemprov Jatim, Margo yuwono dan Sobirin.
Untuk diketahui, program inovasi itu merupakan hasil dari ide dua Aparatur Sipil Negara (ASN) Banyuwangi yang telah menempuh Diklat PIM 2. Inovasi ini sukses diluncurkan setelah sebelumnya telah melalui tahap uji oleh Pemprov Jatim.
Sniper inklusi digagas oleh Kadinsos PPKB Banyuwangi, Henik Setyorini, sementara Lentera Banyuwangi digagas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, MY Bramuda.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengapresiasi inovasi tersebut. Menururnya inovasi itu kian memperkaya inovasi layanan yang sebeulmnya telah ada.
“Sebenarnya ini merupakan project perubahan dari 2 ASN kita yang saya beri tugas untuk menjalani pendidikan PIM 2. Mereka membuat project ini, sehingga ini melengkapi inovasi layanan yang sebelumnya ada,” kata Ipuk.
Ipuk menjelaskan, Sniper Inkulasi merupakan layanan ppengentasan kemiskinan dan penanganan bagi Pemerlu Atensi Sosial (PAS). Sistemnya kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga-lembaga filantropi dan perbankan.
Dalam program sniper inklusi dijalankan secara tim. Terbagi menjadi tim analisis dan tim asesmen. Analisa dilakukan secara komprehensif dibantu sistem AI untuk menentukan ketepatan asesmen.
“Harapannya penanangan bisa benar-benar tepat sasaran sesuai dengan apa yang dibutuhkan PAS,” jelasnya.
Sementara Lentera Banyuwangi adalah intergrasi layanan kesehatan yang mengutamakan kecepatan layanan serta efisisensi layanan. Fasilitas kesehatan di Banyuwangi terkoneksi lewat inovasi ini.
“Semuanya terkoneksi dari klinik hingga rumah sakit. Misalkan mau akses ke rumah sakit, butuh ambulans masyarakat tinggal membuka aplikasi. Rekam medik, misal butuh rujukan masyarakat tidak perlu lagi membawa berkas, cukup menunjukan NIK maka rekam mediknya akan muncul, jadi tidak perlu repot bawa berkas. Masyarakat juga tidak perlu antre, karena jadwal layanannya juga sudah tertera di aplikasi,” terangnya.
Dari program Lentera Banyuwangi, pemerintah daerah juga bisa memantau performa dokter. Prinsipnya yakni “Menyehatkan diluar dan mendisiplinkan di dalam”.
Inovasi Sniper Inkluasi dan Lentera Banyuwangi nantinya bakal terintagrasi dengan layanan super Apps aplikasi Smart Kampung.
“Kami berharap semua inovasi yang diciptakan bukan hanya launchingnya yang besar tapi juga harus bisa berdampak, berkelanjutan. Tentunya perlu dimonitoring dan dievaluasi penerapannya. Supaya tahu mana lebih dan kurangnya,” terangnya.
Sementara itu, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pemprov Jatim, Margoyuwono menyebut Banyuwangi adalah barometer inovasi nasional. Banyak inovasi lahir dari daerah berjuluk Sunrise of Java ini.
“Dua inovasi ini akan semakin melengkapi layanan yang sudah ada,” kata Margoyuwono.
Dalam project ini, Margoyuwono bertindak sebagai pembimbing. Ia mengapresiasi kegigihan dari Henik Setyorini dan MY Bramuda.
“Pak Bram dan Bu Henik melihat apa yang kurang dan perlu disempurnakan. Karena semangat itu yang harus ada diri ASN. Saya mengapresiasi hal tersebut,” tegasnya. [alr/but]






