Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto punya kebiasaan selalu mengajak keluarga saat mendatangi kantor sejumlah partai politik di Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk mendaftarkan diri dalam proses penjaringan calon kepala daerah tahun ini.
Sang istri Kasih Fajarini bersama anak dan menantu selalu terlihat kompak menemani Hendy saat mendatangi kantor Partai Kebangkitan Bangsa, PDI Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Nasional Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera tingkat kabupaten.
Kedekatan Hendy dengan keluarga ini yang sempat memunculkan isu ‘Dinasti Jompo’ dari kelompok atau kalangan yang tak menyukainya. Apalagi empat orang keponakan dan menantu juga mendaftarkan diri menjadi calon legislator di Nasdem, PKB, Gerindra, dan Demokrat walau gagal lolos ke parlemen. Jompo adalah sebutan kawasan domisili kediaman pribadi Hendy dan keluarga di Jember.
“Saya mengajak mereka supaya tahu apa yang saya lakukan. Itu juga memberi keyakinan kepada diri saya sendiri, agar jangan sampai berbuat salah, jangan melanggar. Kalau melanggar, saya malu kepada anak dan cucu. Anak dan cucu saya semua juga akan malu,” kata Hendy.
“Saya harus hati-hati. Jangan sampai anak dan cucu saya malu karena perbuatan saya melanggar aturan,” tambah Hendy.
Dengan membawa keluarga dalam setiap kali pendaftaran bakal calon bupati, Hendy ingin mengingatkan kepada semua anak, menantu, keponakan, dan cucunya agar siap dengan risiko sebagai keluarga orang nomor satu di Jember.
“Mereka harus siap dijelek-jelekkan orang lain. Jadi ini pelajaran total untuk anak-anak saya semua. Jadi anak pejabat publik bukannya enak-enak. Harus siap dijelek-jelekkan orang, walau tidak melakukan (kesalahan), dianggap melakukan. Harus siap di situ,” kata Hendy.
Dengan membawa keluarga, Hendy juga ingin mengirimkan pesan kepada semua orang. “Bahwa hidup harus bersama-sama, berkolaborasi,” katanya.
Hendy mengatakan, pada saatnya, generasi yang lebih muda akan menggantikannya. “Kita hidup bergantian. Setelah ini anak saya dan cucu saya yang hidup. Maka itu kalau ada kesempatan ikut (ke pendaftaran), mereka harus ikut. Ini transformasi nilai, etika, karakter, budi pekerti, akhlak,” katanya.
“Kalau ilmu, anak saya pintar-pintar. Cumlaude semua. Tapi budi pekerti tetap harus diasah, bagaimana semangat orang tua mengabdi ke masyarakat. Jangan sampai mereka cuek. Kalau cuek, repot. Bapak e diilok-ilokno wong, anakku melok ngamuk. Gak boleh,” kata Hendy.
Saat ke kantor Dewan Pimpinan Daerah Partai Nasional Demokrat Jember, Senin (6/5/2024), Hendy menjelaskan isu dinasti ini kepada jajaran pengurus partai tersebut. “Mengurus Jember tidak perlu pakai tutup-tutupan, harus terbuka. Saya sangat terbuka untuk mengoreksi seluruh yang ada di tempat kami, termasuk soal kedinastian, bahwa bupati punya dinasti,” katanya.
“Tidak ada dinasti. Yang ada Dinasti Ming. Itu karangan-karangan saja. Saya berharap orang Jember tidak boleh berghibah (bergunjing, red). Orang Jember Tidak boleh memfitnah. Jember adalah tanggung jawab saya. Yang ber-KTP Jember adalah tanggung jawab saya,” kata Hendy. [wir]






