Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto menginginkan ribuan orang guru di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi guru penggerak. Ini bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan.
“Esensi guru penggerak ini adalah meningkatkan mutu sistem pembelajaran anak-anak kita,” kata Hendy, usai membuka acara Lokakarya 7 Panen Hasil Belajar Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 7 Wilayah Mitra Provinsi Jawa Timur di Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Rabu (5/7/2023).
Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru yang bersifat transformasi, diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia dimulai pada 2020.
Tugas guru penggerak adalah mendorong komunitas belajar bagi rekan guru di sekolah dan lingkungannya, menjadi pengajar praktik bagi rekan guru lain untuk pengembangan pembelajaran di sekolah, dan memacu peningkatan kepemimpinan siswa di sekolah.
“Guru-guru penggerak ini sesuai dengan tagline-nya: tergerak, bergerak, dan menggerakkan, dia bergerak terus. Setelah mengikuti lokakarya (guru penggerak), mereka harus bisa menularkan kepada guru-guru lain dan kepala sekolah untuk bisa menjadi guru penggerak,” kata Hendy.
Selama enam bulan, para guru penggerak ini digembleng dan mendapat pelajaran agar lebih berfokus kepada para siswa. “Esensi (kurikulum) Merdeka Belajar dan Merdeka Mengajar diwujudkan dalam ilmu yang berfokus, sehingga anak-anak kita menjadi unggulan,” kata Hendy.
Level kualitas guru harus ditingkatkan, karena mereka menghadapi ratusan ribu orang siswa. “Ada 200-250 orang guru penggerak dari 1.200 orang guru. Jember nanti akan kami support dengan anggaran dan menjadikan mereka guru-guru penggerak,” kata Hendy.
“Untuk itu, saya akan pastikan seluruh guru wajib menjadi guru penggerak. Tidak ada boleh yang menolak,” katan Hendy. Saat ini ada 105 guru yang tergabung dalam Guru Penggerak Angkatan 7.
Selain itu, Pemkab Jember juga mengevaluasi keseluruhan sekolah yang rusak dan tahapan pembangunannya. “Kami punya sistem untuk memonitor seluruh pembangunan. Kami butuh anggaran Rp 350 miliar. Pembangunannya bertahap. Tidak ada duit,” kata Hendy.
Sebagian Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Jember 2021 lebih diprioritaskan untuk perbaikan jalan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 900 miliar. “Tahun 2022, uang sudah mulai mengecil, ada sekitar seratus sekolah yang sudah kami bangun. Tapi sisa yang rusak masih banyak,” kata Hendy.
Ada sekolah yang sejak delapan tahun lalu rusak belum dibangun. “Kenapa tidak dibangun? Dibangun semuanya bisa, tapi (sektor) lainnya tidak dibangun. Konsep pembangunannya tidak seperti itu. Kami monitoring secara perencanaan, DID (Dana Insentif Daerah) sudah ada semua. Tinggal memilih saja yang akan dibangun,” kata Hendy.
Pemkab Jember akan membersihkan bangunan sekolah-sekolah yang hampir runtuh. “Materialnya kami kumpulkan dan kami inventarisasi kembali,” kata Hendy.
Dari hasil inventarisasi ini diketahui problem di sekolah bukan hanya kerusakan bangunan. “Ada beberapa sekolah yang besar tapi muridnya sedikit. Sekolahnya besar, muridnya sedikit, bangunan rusak. Apakah harus dibetulkan semua? Mungkin tidak, karena jumlah muridnya sedikit,” kata Hendy.
Bagian bangunan yang rusak di sekolah-sekolah seperti ini akan dibongkar dan dibersihkan agar tidak membahayakan siswa dan para guru. “Atap-atapnya kami turunkan,” kata Hendy. [wir]






