Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto dan Ketua DPRD Itqon Syauqi terkejut melihat kondisi Sungai Karangpakel, Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (21/1/2022) siang.
“Ini ketemu penyebabnya, Ra. Ini dia penyebabnya. Pantesan, banjir terus,” kata Hendy kepada Itqon setengah berseru.
Pemandangan di depan mata mereka memang bikin khawatir. “Ngeri,” kata Hendy kepada beritajatim.com.
Betapa tidak, Sungai Karangpakel selebar 25 meter itu terpecah menjadi dua alur. Volume air tinggi dan membawa batu-batuan yang cukup besar besar. “Saya kaget. Yang jelas di luar bayangan saya. Di beberapa titik sungai, air mengalir bukan di jalur aslinya. Jadi air bikin jalur sendiri. Ini kan parah,” kata Itqon.
Itqon juga tak habis pikir dengan sedimentasi di sungai. “Ada yang tingginya 3-4 meter. Gundukan tanah. Belum lagi tumpukan batu,” katanya.
Hendy dan Itqon mendatangi lokasi sungai itu menyusul banjir yang dua hari berturut-turut menyasar sejumlah kecamatan dan kawasan perkotaan. Mereka ingin tahu apa penyebab air sungai begitu deras seperti air bah yang membandang rumah dan harta warga.
“Sepuluh tahun terakhir memang baru kali ini banjir di Jember cukup besar. Curah hujan memang tinggi. Ini banjir tahunan karena belum ada treatment posisi di hulu,” kata Hendy kepada wartawan.

Volume air tinggi yang membawa batuan menandakan bahwa di dataran tinggi yang menjadi hulu terjadi gerusan tanah luar biasa.
“Sungai membuat jalur baru yang menghajar beberapa rumah di Sungai Petung. Rumah yang jaraknya 30 meter dari sungai kena juga karena ada jalur baru (aliran air), yang awalnya satu sungai menjadi dua sungai,” kata Hendy.
Bupati Hendy akan meminta bantuan Pemerintah Provinsi Jatim untuk mengatasi persoalan ini. “Air tidak boleh dihadang, tapi diarahkan. Sekarang sudah terbentuk saluran baru, ini akan berulang setiap tahun. Tinggal tergantung volume airnya saja. Pemkab Jember dan Pemprov akan menbuat desain baru lagi,” katanya
“Kami berharap penanganan di hulu jadi proyek nasional. Penanganan bencana nasional yang itu kolaborasi Pemkab Jember, Pemprov, dan pemerintah pusat. Karena ini menyangkut biaya cukup besar dan penelitian yang komprehensif. Selama bertahun-tahun sungai ini jadi langganan warga Jember. Wes wayahe men-treatment hulu,” kata Hendy.
Perbaikan hulu dilakukan dengan menggunakan sistem tangkap dan pembagi air dan reboisasi. Menurut Hendy, banyak pohon dan tanaman yang tumbang karena dihajar batu-batu yang mengalir bersama derasnya air.
Hendy mengatakan, penanganan hulu butuh waktu lama. Ia meminta warga agar tak menanami sempadan sungai. “Banyak lahan tidak ada airnya. Jangan ditanam. Biarkan saja seperti itu,” jelasnya. (wir/ted)






