Jember (beritajatim.com) – Bupati Muhammad Fawait berharap Koperasi Merah Putih di Kabupaten Jember, Jawa Timur, bisa ikut menggarap tebu yang menjadi bahan baku industri gula nasional.
“Selama ini banyak orang miskin di pinggir kebun, karena tidak punya akses lahan. Maka ke depan, kami menginginkan, mudah-mudahan Koperasi Merah Putih bisa diberi kemudahan menyewa lahan PTPN supaya dikelola oleh koperasi dan untuk petani, bukan disewa pemain-pemain besar,” kata Fawait, saat menyambut Wakil Menteri Pertanian Sudaryono yang berkunjung ke Jember, Kamis (10/7/2025) malam.
Fawait ingin kemiskinan bisa diatasi melalui skema produktif. “Jember punya masalah kemiskinan. Kami terbanyak kedua di Jawa Timur. Bahkan kemiskinan ekstrem kami terbanyak di Jawa Timur. Letak orang miskin di Jember rata-rata di pedesaan, pinggir kebun, pinggir pantai, dan pinggir hutan,” katanya.
Fawait berharap pemerintah pusat memberikan banyak bantuan program kepada Pemkab Jember untuk mengatasi persoalan kemiskinan ini. “Saya berharap Pak Wamen jangan kembali ke Jakarta sebelum memberikan program yang banyak ke Kabupaten Jember,” katanya.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur Arum Sabil mengatakan, target luas areal tebu 700 ribu hektare dengan produktivitas 93 ton per hektare. Namun pada 2024 luas areal produksi tebu nasional 520 ribu hektare, sementara di Jatim 240 ribu hektare.
“Kebun kami bahkan sampai 100 ton per hektare. Rendemen 11 persen. Dulu zaman Belanda bisa 13 persen. Realitasnya pada 2024, produksi tebu nasional 33 juta ton dan di Jatim 16 juta ton sekian. Produksi gula nasional sekitar 2,4 juta ton dan untuk Jatim 1,2 juta ton,” kata Arum.
Kebutuhan gula di Jatim 281 ribu ton. “Ada surplus 1 juta ton di Jatim,” kata Arum.
Arum meminta kepada semua pihak untuk lebih cermat melihat kebutuhan gula nasional. “Ada alasan kebutuhan gula nasional untuk melegitimasi impor. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.
Mengutip WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), Arum menyebut, kebutuhan gula per orang hanya 25 gram. “Artinya sebulan 750 gram. Setahun 9.000 gram. Lebih dari itu bisa kencing manis,” katanya.
Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 280 juta jiwa dan jumlah produksi gula nasional 2,4 juta ton hampir mencukupi. Arum yakin target 700 ribu hektare tebu bisa tercapai untuk berswasembada gula mencukupi kebutuhan dalam negeri.
“Pada tahun 1930, tanaman tebu di Indonesia 200 ribu hektare. Pada tahun 1930 waktu itu, produksi gula nasional sudah mencapai hampir 3 juta ton. Kita termasuk negara pengekspor gula terbesar kedua setelah Kuba,” kata Arum.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sepakat dengan semangat petani untuk berswasembada. Apalagi Presiden Prabowo Subianto telah menetapkaj kebijakan bahwa Indonesia tidak perlu mengimpor dari negara lain.
“Tidak boleh impor gas, tidak boleh impor jagung, tidak boleh impor gula konsumsi, dan tidak boleh impor garam konsumsi,” kata Sudaryono.
Seluruh asosiasi dan organisasi petani dipersilakan menyampaikan aspirasi masing-masing. “Aspirasi itu paling cepat kalau yang membawa jadi pemimpin. Tidak perlu lagi teriak-teriak, karena yang memimpinlah yang tahu aspirasi,” kata Sudaryono.
Menurut Sudaryono, saat ini adalah waktu yang tepat bagi petani untuk menyampaikan aspirasi. Selama bertahun-tahun. sebelum jadi presiden, Prabowo sudah membawa aspirasi petani untuk disampaikan kepada presiden. Salah satunya soal keberatan kalangan petani terhadap impor komoditas pertanian.
Sudaryono melakukan kunjungan kerja ke Jember selama dua hari, 10-11 Juli 2025. Setelah bertemu dengan perwakilan petani di Arum Sabil City Forest, Kamis (10/7/2025) malam, dia mengikuti panen Raya dan sarasehan di Desa Sukamakmur, kecamatan Ajung, tur ke Pusat Penelitian Kopi Kakao Indonesia, dan Apel Kebangsaan Sholawat Tani, bertemu kelompok tani dan petugas penyuluh lapang, di Lapangan Desa Mangaran. [wir]






