Jember (beritajatim.com) – Bupati Muhammad Fawait mengadakan buka puasa bersama relawan pemenangan pemilihan kepala daerah di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (16/3/2025) sore.
Wakil Bupati Djoko Susanto tidak hadir dalam acara itu. Saat ditanya wartawan, ia mengaku tidak tahu. “Memang ada acara apa? Kebetulan saya tidak tahu dan tidak ada undangan,” katanya.
Selain tak terlihat dalam acara buka bersama, Djoko juga tak terlihat pada banner elektronik yang dipampang di atas panggung. Hanya ada foto Fawait dan istrinya yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jember Gyta Eka Puspita.
Hadir dalam acara itu Ketua Tim Pemenangan Gogot Cahyo Baskoro, Ketua Partai Garuda Rio Christiawan, Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Jember KH Badrus Shodiq, dan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Jupriono.
Mengawali sambutannya, Fawait minta maaf karena datang terlambat. “Saya terjebak macet di Kecamatan Rambipuji,” katanya.
Fawait berterima kasih kepada seluruh relawan yang telah bekerja keras selama masa kampanye. Dalam kesempatan itu, dia tak hendak menyampaikan visi dan misi lagi. “Kampanye sudah selesai,” katanya.
Fawait hanya minta diberi waktu untuk bekerja menuntaskan janji-janjinya. “Saya bukan super man, bukan Aladin. Sekali dilantik, baru 13 hari dilantik, (persoalan) langsung selesai semua. Mohon dikasih waktu.” katanya.
Sementara itu, tak hadir dalam buka pasa bersama di pendapa, Djoko Susanto menjenguk tetangga di Kelurahan Muktirsari dan Asni Furoida, ibu anggota DPRD Jember Muhammad Ahmad Birbik Munajil Hayat, di Rumah Sakit dr. Soebandi.
Usai menjenguk Asni Furoida, Djoko menegaskan kembali komitmennya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat. “Yang ingin kita diskusikan dengan teman-teman DPRD Jember adalah bagaimana program UHC (Universal Health Coverage atau layanan kesehatan semesta) bisa berjalan,” katanya kepada wartawan.
Djoko mengatakan, upaya ini butuh pemikiran ekstra di tengah keterbatasan anggaran. “Kalau kita sedang bicara bagaimana membuat efisiensi anggaran, ya harus konkret. Jangan sekadar ngomong efisiensi, tapi di sisi lain banyak bikin kegiatan bersifat seremonial,” jelasnya.
“Ini bukan waktunya memperbanyak kegiatan seremonial. Kita harus lebih konkret. Justru dengan kondisi keuangan hari ini, kita harus lebih banyak mendorong aktivitas masyarakat, peran masyarakat supaya ekonomi tetap bisa berjalan baik, yang pada ujungnya kondisi keuangan APBD ini tidak menjadi masalah kesejahteraan,” kata Djoko.
Djoko berpendapat kedaruratan layanan dalam kesehatan membutuhkan kebijakan khusus. “Bagaimanapun tugas pemerintah daerah adalah memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Jadi perlu strategi khusus. Tapi bukan berarti strategi khusus itu berlaku long term. Pola-pola kedaruratan yang harus digunakan,” katanya. [wir]







11 Komentar
Pilkada sdah selesai. Bupati terpilih sdah ada..mestinya sekarang ini bupati dan wakil bupati milik seluruh rakyat jember. Tidak ada lagi tim.pemenangan.
Salbut…..g di undang g dilibatkan g dikasih tau, piye toh. Katanya g mematikan posisi wakil bupati tapi kenyataannya jalan sendiri-sendiri. Baru dilantik wes kisruh…..g amanah
Habis manis sepah dibuang
Bginihhhklo belum pernah mnjbat di pemerintshan.. tdk mngrti mba yg urgent dg tdk… seharusny ygbutama pmbahasan prgram2 dg wabip jg dprd lboh pnting.. bukan dg team pmenangan kyak jokowi sj .. pkirkn masyarakat yg sdh mnghrapkn perubaham di jmber..
Bgnilahhh klo milih calon yg gda pngalaman di pemerintahan ?? Tdk mngrti birokrasi sprti masany faida jdi kcau balau.. pdhl masyarkat sngt mnghrapkn jmber dlm prbaikn total krn msih ktrblkang dbndingkn bnyuwangi sangat jauh lbih maju krn faktor pintar dan cerdasny gagasan bupati…
Sering sekali berpesta di Jember kota dengan orang kota pula,perlu diingat Gus fawait jadi bupati menangnya di Jember Pinggiran,khususnya Jember utara,kalo dikota nyungsep suaranya guse,kalo sampai lupa pada orang2 yg telah berjuang memenangkannya,insyaallah calonan Bupati yg akan datang akan kalah,dan moga2 kepemimpinan gak sampai 5 tahun,ingat doa orang desa sangat mujaraba…aamiin…
Habis manis sepah dibuang….
Katax karena cinta…🤣🤣🤣
Kareppa dhibik, aktor sandiwara pencitraan
Seharusnya fawait tak boleh seperti itu pada pak joko,karna beliau juga wakil yang sama2 berjuang bukan hanya relawan..
Waktunya balas budi .. bagi bagilah