Malang (beritajatim.com) – Buntut dugaan bunuh diri eks mahasiswi dengan loncat dari lantai 12 Gedung Filkom, Universitas Brawijaya (UB) Malang segera melakukan evaluasi. Salah satunya, UB akan merancang kurikulum yang membuat mahasiswa tidak lagi enggan berkonsultasi ketika menghadapi persoalan, khususnya mental.
“Jadi kami tadi pagi ada pertemuan untuk koordinasi, paling tidak kita menghindari kejadian itu terulang kembali. Terutama kalau diduga ada masalah penyakit pribadi, hubungannya dengan mental, kita buat rancangan kurikulum agar mahasiswa tidak enggan untuk berkonsultasi,” ujar Kepala Humas UB, Tri Wahyu Basuki, saat konferensi pers pada Jumat (15/12/2023).
Kurikulum ini sebenarnya sudah ada sebelumnya. Namun, belum dioptimalkan oleh mahasiswa. Saat ini kurikulum tersebut akan lebih dioptimalkan untuk bisa menanggulangi minimal atau minimal bisa melacak.
Disinggung soal identitas korban, Tri Wahyu menjelaskan pihaknya hanya mengetahui kejadian itu berada di wilayah UB. Hanya saja, terkait bagian dari UB atau eks UB pihaknya menunggu keterangan resmi dari pihak Kepolisian.
“Terkait dengan ini kita serahkan kepada kepolisian hasil investigasinya, dari pihak UB masih didalami karena saat ditemui tidak ada identitas apapun. Bahkan dari pihak Filkom sudah memanggil teman seangkatan yang kenal dengan yang bersangkutan,” ujar Tri Wahyu.
Pihak UB, berdasarkan usulan dari Wakil Dekan 2 Filkom, juga sedang mengkomunikasikan kepada konsultan terkait gedung lantai 12. “Nanti akan di perbaiki, akses untuk keluar akan dipersulit, teknis nya pintu seperti apa akann diperketat,” ungkapnya.
Meski begitu, sebelum membangun sudah ada kajian bersama karena di UB divisi K3N. Lantai 12 gedung Filkom sejatinya digunakan untuk Ruang Lab dan ruang PSIK, yang menangani informasi, jaringan, dan internet.
“Jadi yang ke sana hanya orang terbatas. Lab untuk pengembangan sistem informasi, tapi bukan keperluan tiap hari. Jadi terkait keterangan resminya kita tunggu dari pihak Kepolisian,” tegas Tri Wahyu. [dan/beq]






