Jember (beritajatim.com) – Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Jember, Jawa Timur, gagal memenuhi target serapan beras dan gabah pada 2023. Saat ini belum ada target serapan untuk 2024.
Bulog menyerap 18 ribu ton beras dan 5.000 gabah kering giling pada 2023. Sementara targetnya adalah 45 ribu ton beras. “Faktor penyebabnya adalah harga jual beras di tingkat petani yang cukup tinggi, di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah) yang jadi acuan Bulog,” kata Kepala Bulog Jember Muhammad Ade Saputra, Jumat (5/1/2024).
HPP beras saat ini adalah Rp 9.950 per kilogram dan Rp 5.000 untuk gabah kering panen. Sementara harga beras di pasaran Kabupaten Jember sekitar Rp 12.000 – 15.000 per kilogram. Harga gabah kering panen di pasaran sudah mencapai Rp 7.000 – 7.400 per kilo.
Saat ini Bulog Jember belum menentukan target serapan terbaru. “Kami masih menunggu konfirmasi dan penyusunan RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Bulog pusat,” kata Ade.
Ade mengatakan, stok Bulog di Jember saat ini 3.500 ton. “Kami terus mendatangkan beras melalui pelabuhan Banyuwangi, Probolinggo, dan Surabaya sebanyak 10 ribu ton,” katanya. Tahun 2023, pergerakan stok beras dari Jember ke wilayah lain hanya dilakukan di wilayah Jawa Timur.
“Memang kondisi saat ini dengan melihat tren harga cukup tinggi di pasaran, itu jadi keuntungan bagi petani kita. Belum pernah petani kita menikmati harga begitu tinggi,” kata Ade, saat memberikan sambutan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman Bulog Jember dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Jember untuk penyediaan stok pangan, Kamis (4/1/2024).
Namun, lanjut Ade, Bulog tak bisa berdiam diri. “Peran Bulog adalah pengendalian harga, jangan sampai harga ini melampaui ambang batas belanja konsumen,” katanya.
Bulog mendukung program Panglima Jember (Pangan Keliling untuk Masyarakat Jember). “Semua lini harus adil,” kata Ade. Kerja sama dengan NU untuk mendukung perekonomian masyarakat. [wir]






