Surabaya (beritajatim.com) – Budidaya melon dengan sistem green house rupanya cukup efisien.
Pasalnya, untuk menanam ribuan pohon cukup dengan menyiapkan lahan seluas 6×50 meter persegi saja. Omzetnya pun, dalam sekali panen bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Hal itu dilakukan oleh Syaiful Seomarsono. Pria kelahiran Blora, Jawa Tengah ini tengah menekuni budidaya melon metode green house dengan hanya memanfaatkan lahan sempit di samping rumah. Tapi jangan salah, sekali panen Syaiful mengaku bisa mendapatkan omzet hingga Rp 36 juta.
Ia mengatakan, budidaya melon ini dipilih karena memiliki perputaran yang cepat. Bahkan, dalam setahun Syaiful bisa panen hingga tiga kali. Sedangkan perawatannya juga terbilang cukup mudah. “Melon itu cycle-nya cepat. Jadi, tiga bulan sekali kita bisa panen,” ujar Syaiful, Senin (13/2/2023).
Metode green house sendiri, sengaja ia pakai karena dengan lahan yang sempit, sudah mampu menumbuhkan sebanyak 1.200 pohon. Teknisnya, Syaiful memakai 600 polibag. Di situ, tanaman bisa tumbuh dua buah melon.
Di sisi lain, kata dia, sistem green house ini juga sebagai upaya meminimalisir hama dan penyakit, sehingga panen bisa mencapai 90 persen. “Tanaman kita tumbuhkan secara vertikal. Sehingga, satu pohon ini bisa berbuah dua melon. Sekali panen kalau dengan luas tanah 6×50 ini, bisa jadi 2,4 ton,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, tiap satu buah melon rata-rata beratnya sekitar dua kilogram. Jika diakumulasikan, dari 600 polibag tersebut akan mampu menumbuhkan sebanyak 1.200 pohon. “Kalau kali dua kiloan masing-masing, hasilnya ya sekitar 2,4 ton,” ungkapnya.
Ke depan, Syaiful mentargetkan untuk membangun tiga green house, yakni di Surabaya, Sidoarjo dan Mojokerto. Sementara untuk saat ini, masyarakat bisa datang ke green house-nya yang berada di kawasan Sukodono, Sidoarjo.

Menariknya lagi, green house miliknya ini juga bisa dipakai untuk wisata edukasi. “Wisata edukasi memang kami kembangkan supaya di sini adik-adik (pelajar) semua bisa belajar tentang bagaimana menanam dan memanen melon,” tuturnya.
Sementara Siddiq Rachman, Pengelola Green House tersebut menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih gencar menyasar pasar lokal. Kendati demikian, ke depan juga tak menutup kemungkinan untuk melakukan ekspor.
“Untuk ekspor kita ada, cuman kalau di pangsa lokal aja kita kurang apalagi ekspor ya. Kita sementara di lokal dulu, kalau ekspor nanti kita juga ada pengembangan. Kita rencana buka tiga tempat lagi green house di Sidoarjo, Mojokerto, dan Surabaya,” jelasnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”melon”]
Ia menyebut, bahwa pihaknya juga memasarkan budidaya melon ini lewat edukasi wisata. Di situ, pengunjung terutama anak-anak bisa menanam dan memanen melon. Harapannya, mereka bisa aware terhadap ketahanan pangan di masa mendatang.
“Kalau dari kecil tidak diedukasi dengan baik, bisa-bisa negara seluas Indonesia hanya bisa ketergantungan pangan dengan luar negri. Ini yang berbahaya,” sebutnya.
Dikatakan Siddiq, melon hasil budidaya ini ada tiga jenis yakni melon mini, jumbo, dan golden. Harga melon ini dibanderol Rp 15 ribu per kilonya. [ipl/ted]






