Surabaya (beritajatim.com) – Buaya Tanah, atau juga dikenal sebagai rumput tanah, memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Iban di Malaysia, khususnya dalam praktik bercocok tanam di sawah selama beberapa dekade terakhir. Sebelum penggunaan racun atau insektisida diperkenalkan, Buaya Tanah menjadi garda terdepan dalam melindungi lahan pertanian dari serangan hama.
Upacara Mali Umai dan Pembuatan Buaya Tanah
Buaya Tanah biasanya dibuat dalam rangka upacara tradisional ‘mali umai’ yang digelar pada bulan Oktober atau November. Proses pembuatan Buaya Tanah ini biasanya dilakukan secara berpasangan, dengan buaya jantan ditempatkan di sebelah kanan dan betina di sebelah kiri. Buaya-buaya ini ditempatkan beberapa meter dari sungai, dengan kepala mengarah ke sungai dan menghadap matahari terbit. Buaya jantan memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan buaya betina, dengan panjang antara 2,5 hingga 4 meter dan lebar antara 0,5 hingga 0,8 meter. Mata buaya dibuat dari mangkok kecil, sementara sisiknya terbuat dari gerabah.
Fungsi dan Makna Buaya Tanah
Buaya Tanah memiliki beberapa fungsi penting. Pertama, ia berfungsi sebagai pelindung lahan persawahan dari hama seperti tikus, belalang, dan serangga lainnya, sehingga petani dapat memperoleh hasil panen yang melimpah. Selain itu, Buaya Tanah juga diyakini membawa kemakmuran, kesehatan, dan perlindungan dari roh jahat. Menurut kepercayaan, roh Buaya Tanah akan bangkit dan memusnahkan semua hama setelah upacara ‘mali umai’ dilaksanakan. Namun, setelah upacara, masyarakat setempat tidak diperbolehkan keluar rumah pada malam hari selama tiga malam karena diyakini bahwa roh buaya tersebut akan berkeliaran dan dapat membahayakan mereka.
Penurunan Tradisi dan Modernisasi Pertanian
Seiring dengan perkembangan zaman dan diperkenalkannya metode pertanian modern seperti penggunaan insektisida, tradisi pembuatan Buaya Tanah untuk upacara ‘mali umai’ mulai ditinggalkan. Kini, masih terdapat sisa-sisa Buaya Tanah yang berumur antara 50 hingga 200 tahun di berbagai daerah seperti Engkilili (San Tabut), Pantu, Skrang, Saratok, Kanowit, dan Kapit. Warisan budaya ini menjadi saksi bisu dari perubahan dan adaptasi masyarakat Iban terhadap kemajuan teknologi pertanian.
Buaya Tanah merupakan simbol penting dalam sejarah dan budaya masyarakat Iban di Malaysia. Meskipun kini tradisi ini mulai tergerus oleh modernisasi, peninggalan-peninggalan Buaya Tanah yang masih ada dapat menjadi pengingat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya yang sarat makna dan nilai sejarah. Dengan demikian, generasi mendatang dapat terus mengenal dan menghargai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. [aje]






