Jombang (beritajatim.com) – BPBD Jombang memasang alat peringatan dini tanah gerak atau early warning system (EWS) di Dukuh Jumok Dusun Semberlamong Desa Sambirejo Kecamatan Wonosalam, Selasa (28/2/2023). Pasalnya, di lokasi tersebut rawan bencana tanah gerak. Sudah ada 10 rumah yang retak akibat tanah bergerak tersebut.
EWS yang dipasang tersebut berjumlah satu unit. Lokasinya di salah satu rumah warga. Nah, ketika ada getaran maka alat tersebut mengeluarkan sirine atau bunyi. Sehingga warga sekitar bisa menyadari datangnya ancaman. “Kita sudah pasang EWS di Dusun Jumok. Alat ini bantuan dari BPBD Provinsi Jatim,” ujar Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jombang Syamsul Bahri.
Pemasangan alat ini, menurut Syamsul, sebagai upaya pengurangan risiko bencana. Mengingat warga masih beraktivitas di rumah mereka. Namun ketika hujan deras dengan intensitas tinggi maka warga selalu was-was. Mereka khawatir tanah di dusun tersebut bergerak dan berdampak pada rumah.
BACA JUGA:
Hujan Semalam, 10 Rumah Warga Wonosalam Jombang Retak Akibat Tanah Gerak
“Sirine alat ini nantinya akan berbunyi ketika ada gerakan tanah. Warga yang masih berada di lokasi, diminta untuk segera melakukan evakuasi mandiri menuju titik kumpul. Ini sebagai langkah untuk mengurangi risiko bencana,” kata Syamsul Bahri ketika di lokasi.
BPBD Jombang mencatat, berdasarkan laporan Kades (Kepala Desa) setempat, terdapat 10 rumah di dusun tersebut yang dindingnya retak-retak. Semua berawal ketika hujan deras akhir tahun lalu. Hujan berlangsung cukup lama. Mulai pukul 11.00 WIB hingga larut malam. Seiring dengan itu terdengar suara ‘kemlatak’. Saat itulah muncul keretakan pada rumah warga.

Selain bagian dinding, keretakan juga pada lantai rumah. Panjang keretakan bervariasi. Begitu juga lebar keretakan. Dari jumlah itu, ada satu yang mengkhawatirkan. Karena rumahnya sudah tua. Akhirnya ditinggalkan oleh penghuninya. Si pemilik mengungsi ke rumah anaknya.
Selain memasang EWS di lokasi, BPBD Jombang juga membentuk Destana (Desa Tangguh Bencana) serta melantik pengurus FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Desa Sambirejo. Dengan pembentukan tersebut, Desa Sambirejo memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya.
“Selain itu juga mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana. Setelah membentuk Destana, kemudian melantik pengurus FPRB tingkat desa, serta memasang EWS di lokasi tanah gerak,” pungkas Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana BPBD Jombang ini. [suf/ted]






