Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda resmi merilis informasi bahwa sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro mulai memasuki musim kemarau pada akhir April 2025. Menyikapi hal itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro mengimbau petani agar tidak melakukan penanaman padi di awal tahun, khususnya di wilayah yang tidak memiliki jaringan irigasi.
“Kita lewat petugas PPL langsung memberikan sosialisasi ke beberapa wilayah agar tidak melakukan tanam padi diawal tahun, bagi wilayah yang tidak terdapat jaringan irigasi,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Manusia dan Pembiayaan DKPP Bojonegoro, Zaenul Ma’arif, Selasa (15/4/2025).
Menurut Zaenul, berdasarkan rilis BMKG, sebanyak 23 kecamatan di Bojonegoro diperkirakan akan mulai mengalami musim kemarau pada bulan Mei. Sementara itu, lima kecamatan lainnya, yakni Balen, Sumberrejo, Kanor, Baureno, dan Kepohbaru, diprediksi lebih dahulu memasuki musim kemarau pada April Dasarian III atau sepuluh hari terakhir bulan ini.
Kelima kecamatan tersebut diketahui memiliki lahan produktif yang cukup luas. “Dari data DKPP, ke lima kecamatan yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih awal memiliki lahan produktif mencapai 15.274 hektar,” jelasnya.
Zaenul menambahkan, sebagian besar petani di Bojonegoro telah melakukan panen pada bulan Maret lalu yang merupakan puncak musim panen. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ketersediaan air di musim kemarau, khususnya untuk petani yang akan kembali bercocok tanam.
“Harapan kami, dengan adanya sosialisasi ini para petani dapat mewaspadai akan ketersedian air untuk tanaman mereka saat musim kemarau tiba,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipatif, DKPP juga mengimbau penyuluh pertanian untuk terus melakukan pendampingan kepada petani dan menganjurkan pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Asuransi ini dianggap penting untuk mengantisipasi kemungkinan gagal panen akibat dampak perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. [lus/beq]






