Malang (beritajatim.com) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT bekerjasama dengan Universitas Brawijaya (UB). Mereka melakukan mitigasi dan pencegahan terorisme di tingkat kampus. Apalagi sebelumnya seorang mahasiswa UB ditangkap Densus 88 Anti Teror karena terafiliasi dengan jaringan radikal.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, dalam menangkal radikalisme seorang mahasiswa tidak hanya dituntut punya ilmu pengetahuan. Tapi harus mengenal karakter dan ideologi bangsa Indonesia.
“Pengenalan karakter nasional merupakan hal yang sangat wajib dan perlu kita jaga untuk generasi muda. Bukan, hanya secara akademisi mampu mempertahankan ilmunya tapi mampu mempertahankan bangsanya dalam persaingan global,” kata Boy Rafli dalam kegiatan Staffing Class dan Persiapan Perkuliahan Semester di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya (UB), Malang, Lantai 8, Kamis (18/8/2022).
Ia mengatakan, UB sebagai salah satu perguruan tinggi dengan mahasiswa terbanyak di Indonesia, harus mampu mengenalkan karakter bangsa ke generasi muda yang merupakan calon pemimpin. Menurutnya, pemahaman tentang ideologi bangsa diharapkan tidak hanya dipahami dalam konteks sebagai ilmu tapi juga pedoman jati diri bangsa yang harus dimiliki siapapun.
“UB tempat belajarnya puluhan ribu mahasiawa mahasiswi dari berbagai daerah. UB punya peran besar dalam melahirkan calon pemimpin. Jika generasi muda tidak mengenali ideologi dan karakter bangsanya maka mereka akan menjadi miskin identitas yang akan mempengaruhi daya saing bangsa terhadap masyarakat global,” ujar Boy.
[berita-terkait number=”3″ tag=”radikalisme”]
Mantan Kadiv Humas POLRI tersebut mengatakan banyak yang melirik negara Indonesia terutama dari segi Sumber Daya Alamnya. Sehingga negara ini rentan disusupi ideologi radikal. “Saya mencoba mengutip ucapan dari Bung Karno yaitu bangsa ini harus dibangun dengan pembangunan karakter. Pembangunan karakter inilah yang akan menjadi yang besar,maju, jaya, dan bermartabat,” imbuhnya.
Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja sama, dan Internasionalisasi Prof Moch. Sasmito Djati menambahkan tantangan kedepan tidak hanya seputar pada fisik tapi juga ideologi bangsa.
“Kita sebagai bangsa yang besar punya pluralitas yang harus kita rawat. Hal tersebut menjadi harga yang mahal saat ini. Pecah belah bisa saja terjadi karena kita tidak bisa menyadari pluralitas menjadi hal yang sangat penting. Ada banyak kesenjangan di negeri ini. Yang bisa menjadi pemicu pecahnya bangsa ini. Maka dari itu kita harus rawat dengan baik,” tandasnya. [luc/suf]






