Mimika (beritajatim.com) – Hari ini tepatnya 10 Oktober 2023, saya berkesempatan mengunjungi, atau istilahnya blusukan melihat dari dekat pertambangan tembaga Freeport Indonesia di Tembagapura, Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Meskipun perjalanan ini pertama kalinya dilakukan oleh penulis. Kunjungan tersebut merupakan perjalanan yang lain dari sebelumnya.
Pertama, ini merupakan pertama kali penulis menginjakkan kaki di provinsi Indonesia paling timur yakni Papua. Dari 34 provinsi, tanah Papua daerah yang kaya sumber daya alam. Bahkan, penyanyi Franky Sahilatua almarhum menggambarkan istilah Papua sebagai surga kecil jatuh ke bumi.
Kedua, pulau dan Provinsi Papua merupakan magnet tersendiri bagi penulis serta orang Indonesia. Selain menyimpan pesona alam di tiap lekuk bentangnya. Papua menjadi salah satu idiom kebangsaan dari Sabang sampai Merauke.
Terkait dengan Tembagapura, siapa yang tidak kenal dengan nama tersebut. Sebagai daerah penghasil tembaga yang dikelolah oleh PT Freeport Indonesia (PTFI). Perusahaan tambang terbesar yang selalu menjadi perbincangan baik soal produksi, konsesi dan negosiasi.
Semua itu membuat penulis bersemangat sekaligus penasaran soal isi perut ‘Bumi Cenderawasih’. Kapan lagi bisa melihat dari dekat serta blusukan ke tambang tembaga terbesar itu.
Berangkat dari Kota Gresik pukul 03.30 wib menuju ke Bandara Juanda Surabaya. Pesawat Airfast Indonesia yang kami tumpangi take off pukul 05.55 wib lalu terbang selama 1jam 20 menit. Selanjutnya, transit di Bandara Sultan Hasanudin Makasar sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandara Mozes Kilangin Timika, Mimika.
Setelah menempuh penerbangan selama 2 jam. Cuaca sedikit mendung menyambut kedatangan kami pada pukul 13.20 wit. Ada selisih waktu 2 jam antara Surabaya dengan Papua.
“Selamat datang di bandara Mozes Kalingin,” ujar Karel Luntungan Media Relation PT Freeport Indonesia (PTFI) kepada beritajatim.com, Selasa (10/10/2023).
Baca Juga: PT Freeport Indonesia Gelar Rembuk Akur dengan Masyarakat Gresik
Karel sapaan akrabnya yang asli Manado, sejak 2008 bergabung dengan PTFI. Pria yang ramah ini menyambut kedatangan kami di Bandara Mozes Kalingin. Sebelum melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus anti peluru dari bandara, atau dikenal bus cuti. Ayah tiga orang anak itu, banyak menceritakan soal perjalanan dari bandara ke Tembagapura.
Ada perbedaan Bandara Mozes Kalingin dengan bandara lainnya di Indonesia. Bandara yang dibangun PTFI semua penumpang yang hendak ke arah pertambangan (Tembagapura) diwajibkan melakukan boarding pas saat naik bus cuti berwarna oranye yang kiri kanannya dimodifikasi terpasang plat baja berwarna hitam.
“Silahkan kalau mau ke toilet mumpung bus belum datang. Sebab, kalau sudah berangkat bus hanya berhenti di miles 50,” ujar Karel.
Bus yang berkapasitas 51 penumpang ini nantinya akan membawa ke Tembagapura. Setiap hari bus hanya beroperasi berkonvoi 20 bus mulai pukul 07.30 hingga 14.30 wit.
Setelah menunggu hampir 20 menit, bus cuti yang berwarna oranye berangkat dari bandara. Penumpang yang duduk tidak bisa melihat kiri dan kanan layaknya bus di Pulau Jawa. Untuk mengkedepankan keamanan. Bus cuti ini juga dijaga anggota TNI dan Polri bersenjata lengkap.
“Dalam setiap konvoi ada anggota TNI dan Polri yang turut serta hanya untuk berjaga-jaga untuk keselamatan penumpang,” kata Karel.
Sementara itu, pengemudi bus cuti Joy Ambarita (42) asal Manado yang sudah 2017 menjalankan bus anti peluru mengatakan, dirinya sudah biasa menjalankan bus ini meski pernah mengalami ada kendala gangguan keamanan.
“Dibanding tahun-tahun sebelumnya, kondisi sekarang jauh lebih aman dibanding 7 tahun lalu,” ujar bapak satu anak ini.
Baca Juga: Freeport Indonesia Rekrut 203 Karyawan Asal Gresik
Dirinya menceritakan setiap hari menjalankan tugas sebagai driver bus demi menyambung hidup serta menafkahi anak dan istrinya. Dengan mengenakan rompi anti peluru, Joy diminta sigap mengingat jalan ke Tembagapura. Selain jalannya terjal tidak menutup kemungkinan ada gangguan keamanan.
“Semua pekerjaan itu ada resikonya mas bagaimana kita selalu berdoa, dan tetap waspada saja,” ungkapnya.
Perjalanan bus cuti akhirnya sampai di Tembagapura setelah menempuh perjalanan 2 jam. Jalanan berkelok serta menanjak menyusuri tengah hutan yang berkabut sangat terasa sekali. Namun, rasa lelah itu hilang saat melihat langsung kelap-kelip lampu diatas bukit yang berkabut di ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut (mpdl). (dny/ted/bersambung)






