Sumenep (beritajatim.com) – Suara ledakan keras terdengar jelas di Dusun Maronggi, Desa Rajun, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Bahkan suara ledakan seperti mercon itu terdengar hingga tiga kali.
Warga sekitar pun bergegas keluar rumah mencari sumber suara ledakan itu. Ternyata ditemukan ada sepeda motor dalam keadaan roboh di samping timur, menghadap utara. Dan diatas sepeda motor itu, ada seseorang laki laki dalam posisi telungkup.
“Ketika ditemukan, laki-laki itu sudah dalam keadaan meninggal, dan punggungnya mengalami luka terkelupas seperti luka bakar,” kata Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Selasa (09/05/2023).
Laki-laki yang ditemukan meninggal pasca suara ledakan itu diketahui bernama Pusiri (55), warga Desa Rajun, Kecamatan Pasongsongan.
Sebelum ditemukan meninggal, Pusiri janjian dengan pamannya yakni Mahwi, untuk pergi bersama ke kediaman salah satu kyai di Desa Kalebengan, Kecamatan Rubaru. Mereka menemui Pak Kyai guna meminta hari baik untuk pernikahan keponaannya.
Pusiri kemudian berangkat dari rumahnya dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra. Sedangkan pamannya, Mahwi, berangkat dari rumahnya sendiri juga mengendarai sepeda motor. Mereka janjian untuk ketemuan di dekat masjid.
https://beritajatim.com/peristiwa/kebakaran-mwc-nu-lenteng-polres-sumenep-datangkan-labfor/
Kemudian sepeda motor Mahwi dititipkan di rumah warga, dan Mahwi berboncengan dengan Pusiri menuju Desa Kalebengan. Sepulang dari rumah salah satu kyai di Desa Kalebengan itu, Pusiri mengantarkan Mahwi ke dekat masjid tempat menitipkan sepeda motor. Setelah itu, Pusiri dan Mahwi pulang sendiri-sendiri mengendarai sepeda motor masing-masing. Pusiri ke arah barat, dan Mahwi ke arah utara.
Tak berselang lama, di sekitar jalan menuju rumah Pusiri itulah, warga mendengar suara ledakan sebanyak 3 kali. Bahkan Abisani, istri Pusiri juga mendengar suara ledakan itu, dan bersama-sama warga mendatangi sumber suara ledakan.
“Jadi istri korban ini ikut ke lokasi sumber ledakan. Bahkan istri korban inilah yang pertama kali mengetahui jika laki-laki yang meninggal dengan luka bakar itu adalah suaminya,” ungkap Widiarti.

Istri korban langsung menangis dan memeluk tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa. Dengan dibantu warga, korban dibawa pulang dan langsung disucikan untuk dimakamkan. Korban dimakamkan di pemakaman keluarga, di Dusun Maronggi, Desa Rajun, Kecamatan Pasongsongan.
“Pihak keluarga menolak untuk dilakukan tindakan medis dan otopsi terhadap jenazah korban. Keluarga korban menganggap ini sebagai musibah dan takdir Allah,” terang Widiarti.
Karena keberatan itu, keluarga diminta menandatangani surat pernyataan menolak otopsi jenazah korban.
“Kami tidak bisa mengungkap ledakan apa itu dan apa penyebab kematian korban, karena kondisi TKP sudah rusak dan korban sudah dimakamkan,” ucap Widiarti. [tem/but]






