Malang(beritajatim.com) – Bina Nusantara University atau Binus Malang ingin menyiapkan alumnusnya agar siap kerja dan berbisnis. Sebab, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan akademik, tapi juga talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Gap antara lulusan dan kebutuhan industri masih terasa, utamanya soal relevansi kompetensi. Dunia kerja menuntut literasi baru, mulai dari digital hingga artificial intelligence. Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, lulusan kita akan sulit diserap,” ujar Campus Director Binus Malang, Robertus Tang Herman.
Apalagi menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur pada 2024 tercatat sebesar 4,19 persen. Angka ini memang menurun dari tahun sebelumnya yang berada di 4,88 persen, namun lebih dari satu juta penduduk usia kerja masih belum terserap di pasar tenaga kerja.
Saat ini Binus sedang membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif dan berbasis kolaborasi. Mahasiswa diajarkan teori sekaligus diterjunkan langsung ke dunia kerja melalui program magang, proyek industri, hingga pembinaan bisnis.
“Kami punya tagline ‘2,5 tahun mempersiapkan karier’. Mahasiswa Binus diproyeksikan untuk mengenal dunia kerja bahkan sebelum lulus. Satu tahun terakhir perkuliahan mereka full exposure ke industri,” ujar Robert.
Binus juga mendorong mahasiswa untuk siap menjadi entrepreneur. Khusus di Binus Malang, fokus pengembangan diarahkan pada digital entrepreneurship. Mereka juga melihat tren Gen Z dan kebutuhan pasar digital.
“Jadi kami siapkan mahasiswa bukan hanya untuk kerja, tapi juga menciptakan lapangan kerja. Trust dari dunia industri tidak bisa dibangun dalam semalam. Tapi Binus berkomitmen menjaga standar global agar lulusan kami bisa memberi dampak, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia,” ujar Robert.
Contoh dari alumnus Binus angkatan 2024 adalah Michael Kevin, dia kini telah menjalankan bisnis apparel dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Kisahnya dimulai dari dropship kecil saat SMA, hingga kini memiliki unit produksi sendiri.
“Di Binus, pembinaan terasa banget. Saya enggak cuma belajar bisnis di kelas, tapi dapat mentor, dosen, bahkan komunitas yang mendorong untuk berkembang. Informasi dari dosen dan mentor itu kepakai semua sekarang,” ujar Kevin. [luc/aje]






