Lamongan (beritajatim.com) – Pelatih Persela Lamongan, Bima Sakti, mengecam keras rentetan insiden “tendangan kungfu” yang terjadi di kompetisi Liga 4 wilayah Jawa Timur dan Yogyakarta baru-baru ini. Legenda sepak bola Indonesia tersebut menilai aksi brutal di lapangan hijau telah mencoreng wajah sepak bola nasional dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan antarpesepak bola profesional.
Komentar pedas Bima Sakti ini menanggapi dua kejadian mengerikan yang berlangsung secara beruntun. Pertama, aksi pemain Putra Jaya Pasuruan saat menghadapi Perseta Tulungagung di Stadion Gelora Bangkalan, Senin (5/1/2026). Sehari kemudian, aksi serupa dilakukan pemain KAFI Jogja FC terhadap pemain UAD FC di Lapangan Sitimulyo, Bantul, Selasa (6/1/2026).
“Ini sangat memprihatinkan ya. Sepakbola kita harus kita jaga sama-sama. Dengan kejadian ini, saya pikir sangat mencoreng sepakbola kita,” tegas Bima Sakti saat memberikan keterangan di Lamongan, Kamis (8/1/2026).
Sebagai pelatih yang lama berkecimpung di level Timnas maupun klub, Bima mengaku kecewa melihat perilaku pemain muda yang jauh dari standar fair play. Ia menekankan bahwa rivalitas di lapangan seharusnya tidak menghilangkan rasa hormat kepada lawan yang juga sesama rekan seprofesi.
“Kita harus tetap respect sama lawan, respect sama wasit, dengan pelatih dan jangan sampai ada lagi kejadian-kejadian yang sampai mencederai lawan. Karena kita sama-sama mencari makan, bekerja di lapangan bola,” ujar pelatih berlisensi Pro-AFC tersebut.
Bima Sakti menambahkan bahwa kemenangan memang merupakan tujuan utama dalam setiap kompetisi, namun cara mencapainya tidak boleh melanggar sportivitas. Menurutnya, tindakan menghalalkan segala cara dengan kekerasan fisik justru menunjukkan kegagalan dalam pembinaan mental atlet.
“Kita harus saling jaga, saling melindungi. Menang memang menjadi target utama, tapi kemenangan juga harus dicapai dengan cara yang fair dan sportivitas yang tinggi,” imbuhnya secara lugas.
Menurut Bima, Liga 4 seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi pemain muda untuk menambah pengalaman dan membentuk karakter yang kuat. Ia mendesak seluruh stakeholder, mulai dari manajemen klub, pelatih, hingga orang tua, untuk lebih fokus pada aspek moralitas dan perilaku pemain di luar kemampuan teknis sepak bola.
“Yang pasti harus semua stakeholder saling support, dari manajemen, pelatih, orang tua juga. Selain kemenangan, ada hal lain yang lebih penting, adalah bagaimana membina mereka. Apalagi itu liga 4, menjadi ajang atau tempat mereka untuk berkompetisi, untuk menambah jam terbang dan pengalaman dalam bermain sepakbola,” jelas Bima.
Terakhir, Bima memberikan peringatan keras kepada para pemain muda agar segera memperbaiki mentalitas bertanding mereka. Ia mengingatkan bahwa perilaku kasar di level amatir akan menjadi bumerang bagi karier mereka saat nantinya masuk ke jenjang liga profesional yang kini telah didukung oleh sistem pengawasan ketat.
“Kalau mereka punya mental yang nggak baik, sering bermain kasar atau mencederai lawan, akhirnya nanti ketika berada di level berikutnya, wasitnya sudah profesional, apalagi ditunjang dengan teknologi VAR, ya akan berbahaya,” pungkasnya. [fak/ian]






