Surabaya (beritajatim.com) – Dalam era digital yang cepat, cara ekspresi seni juga mengalami perubahan. Salah satu hal yang menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah puisi Instagram, puisi-puisi singkat yang ditulis dengan gaya padat, estetika visual, dan sering dilengkapi dengan ilustrasi atau tipografi yang menarik.
Walaupun banyak diminati Gen Z sebagai tempat untuk berkeluh kesah dan alternatif mereka menumpahkan segala uneg uneg dan curahan hati, puisi tipe ini tak terhindar dari perdebatan. Banyak yang memandangnya sebagai “puisi seketika” atau bahkan “puisi tidak asli.” Apakah benar bahwa puisi di Instagram adalah bentuk seni yang patut dianggap sepele?
Apa Itu Puisi Instagram?
Puisi Instagram adalah karya sastra yang diterbitkan di platform media sosial, terutama Instagram. Ciri utamanya:
* Singkat dan gampang dimengerti
* Dilengkapi dengan desain visual yang menarik
* Berfokus pada emosi, kesedihan, kasih, atau rutinitas sehari-hari
* Dipakai sebagai cara ekspresi pribadi yang cepat dipahami.
Beberapa nama yang terkenal melalui puisi Instagram termasuk Rupi Kaur (penyair dan ilustrator dari Kanada) serta Rintik Sedu di Indonesia.
Antara Ketertarikan dan Sederhana
Tanggapan negatif terhadap puisi Instagram umumnya berasal dari penyair atau akademisi yang akrab dengan puisi konvensional. Mereka mengevaluasi puisi Instagram:
* Sangat mudah
* Terlalu “umum” dan standar
* Terbatasnya kekayaan kosakata, gaya bahasa, dan dimensi makna.
Namun, justru karena kesederhanaannya, puisi Instagram dapat menjangkau lebih banyak orang. Ia menjadikan puisi bukan lagi hanya milik “budayawan”, tetapi hak semua orang yang ingin menulis dan merasakan
Menjadi Wadah Ekspresi Baru
Di tengah platform media sosial yang sarat dengan gambar, puisi Instagram menawarkan wadah untuk merenung. Banyak individu menemukan penghibur, pengingat, dan bahkan pengesahan emosi lewat sajak-sajak pendek ini. Komentar seperti “ini banget aku,” “aku banget,” atau “pas banget dengan hariku hari ini” menunjukkan bahwa puisi ini mengena bagi banyak pembaca.
Banyak orang yang berminat untuk mempelajari cara menulis puisi setelah melihat puisi di Instagram. Ia menjadi jembatan ke dunia sastra bagi generasi digital yang sebelumnya mungkin berpikir “puisi itu rumit.”
Kekuatan Visual dan Algoritma
Salah satu daya tarik puisi Instagram adalah daya tarik visual. Tata letak yang rapi, tipografi sederhana, ilustrasi minimalis dan semuanya memperkuat nuansa yang ingin ditampilkan. Dalam dunia yang dipengaruhi oleh algoritma dan visual yang menarik, puisi Instagram terintegrasi dengan pola konsumsi konten masa kini.
Apakah ini tidak baik? Tidak selamanya. Menarik untuk dicermati bahwa puisi juga bertransformasi seiring perkembangan teknologi, menjadikannya bagian dari budaya digital yang dinamis.
Seni yang Tidak Kelas Atas
Puisi Instagram menantang pandangan bahwa puisi mesti rumit, harus berpanjang lebar, atau harus diterbitkan di jurnal sastra. Ia menyatakan, “setiap orang bisa menulis.” Dan mungkin justru karena alasan itu ia dianggap sebelah mata: karena terlalu mudah diakses, terlalu “umum,” terlalu bukan kalangan elit.
Tetapi bukankah seni seharusnya mencakup, bukan mengecualikan?
Tidak semua puisi di Instagram memiliki kedalaman arti atau keindahan bentuk seperti Chairil Anwar atau Sapardi. Namun itu tidak berarti ia pantas dianggap sepele. Ia merupakan cermin era, bentuk lain dari ungkapan, dan metode baru untuk mengekspresikan perasaan.
Akhirnya, puisi dalam segala bentuknya, tetap soal menyentuh jiwa, dan puisi Instagram mampu mencapai hal itu, satu swipe setelah swipe lainnya. [Nazala Habibah Fathyadin]






