Surabaya (beritajatim.com)– Makanan dalam drama Korea bukan sekadar hiasan di meja makan atau pelengkap adegan, melainkan elemen penting yang membawa karakter dan cerita hidup. Di balik setiap mangkuk sup dan sepiring lauk yang tampak menggoda itu, ada tangan para food stylist yang bekerja keras menciptakan hidangan yang bukan hanya indah, tetapi juga bermakna.
Tidak heran, sejumlah drama legendaris sukses menarik perhatian penonton lewat detail kulinernya. Membuat banyak penonton penasaran dengan siapa yang menata makanan tersebut.
Tidak sekedar menata makanan
Ternyata, makanan dalam drama Korea bukan hasil tangan koki biasa, melainkan karya para penata makanan profesional yang membaca naskah layaknya aktor memahami peran. Mereka bekerja sejak tahap awal produksi, berdiskusi dengan tim seni dan sutradara untuk menciptakan hidangan yang tidak hanya indah di layar, tetapi juga merefleksikan karakter, emosi, dan latar cerita. Setiap detail diperhitungkan mulai dari bahan, warna, hingga cara penyajian, agar makanan benar-benar “berbicara” dalam adegan.
Tidak hanya cantik visual
Meski tampak glamor di layar, pekerjaan ini sebenarnya penuh tantangan. Banyak adegan yang harus diambil berulang, membuat tim harus menyiapkan makanan dalam jumlah besar, bahkan di lokasi tanpa air dan api. Meski begitu, cita rasa tetap menjadi prioritas. Para food stylist percaya bahwa akting yang meyakinkan hanya bisa muncul jika aktornya benar-benar menikmati makanan.
Rasa yang menyimpan cerita
Lebih dari sekadar penampilan, makanan dalam drama Korea kini menjadi bahasa emosional yang menyampaikan perasaan karakter dan memperdalam cerita. Bukan cuma soal tampil menggoda di layar, tapi juga jadi bahasa emosional yang diam-diam menyampaikan perasaan para tokohnya. Ada sup hangat yang jadi simbol kasih sayang keluarga, atau daging panggang mewah yang mencerminkan ambisi dan gengsi seseorang. Setiap warna, tekstur, dan cara penyajiannya dibuat dengan begitu detail, seolah punya makna tersendiri di baliknya.
Bahkan di balik satu adegan makan berdurasi lima detik, ada riset berbulan-bulan dan dedikasi tinggi para penata makanan. Karena bagi mereka, setiap hidangan bukan hanya untuk dimakan, tetapi untuk dihidupkan.
Pada akhirnya, makanan dalam drama Korea bukan hanya pelengkap cerita, tapi bagian dari seni bercerita itu sendiri. Di balik setiap adegan makan yang terlihat sederhana, ada riset panjang, emosi yang disusun rapi, dan dedikasi tinggi dari para penata makanan yang mengubah hidangan menjadi simbol kehidupan.
Mungkin itu sebabnya, saat menonton drama Korea, kita bukan hanya dibuat lapar oleh tampilannya, tapi juga tersentuh oleh cerita yang tersembunyi di balik setiap suapan.
[Erlina Damayanti]






