Bondowoso (beritajatim.com) – Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti Pendopo Bupati Bondowoso pada Rabu (30/7/2025), saat sebanyak 40 peserta Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Ceria Mandiri resmi diwisuda. Program yang berdiri baru setahun ini tak hanya unik karena menyasar kelompok lanjut usia, tetapi juga karena mencerminkan keberagaman agama dan etnis yang harmonis.
Para wisudawan terdiri dari beragam latar belakang keyakinan dan suku. Sebanyak 9 peserta beragama Islam, 12 Katolik, 11 Kristen, dan 8 Buddha. Dari sisi etnis, terdapat 24 orang dari suku Jawa, 8 Chinese, 5 Madura, serta masing-masing satu dari Ambon, Dayak, dan Bali.
Kepala Sekolah Selantang Bondowoso, Mikenzy Linda Meliana, menyampaikan bahwa gagasan pendirian sekolah ini terinspirasi dari program serupa di Jember. “Kita dapat inspirasi dan dorongan, kenapa tidak buka di Bondowoso? Karena Jember sudah ada, sedangkan Bondowoso belum ada,” ujarnya kepada BeritaJatim.com.
Sekolah ini resmi dilaunching pada 14 November 2024 dan mulai aktif pada Januari 2025. Materi pembelajarannya mencakup topik kesehatan, kewirausahaan, pertanian, hingga keterampilan vokasional. Para pengajar pun berasal dari latar belakang profesi dan agama yang beragam.
“Kami tidak menutup diri terhadap agama dan etnis apa pun, semua diterima,” imbuh Mikenzy.
Salah satu wali kelas sekaligus pengurus sekolah, Bambang, menuturkan bahwa materi ajar difokuskan pada kebutuhan para lansia. “Pemateri banyak dari bidang kesehatan karena lansia erat kaitannya dengan kesehatan fisik. Tapi kami juga berikan pelatihan lain, termasuk pertanian,” katanya. Ia juga turut menjadi pemateri, termasuk dalam bidang pertanian.
Materi terakhir yang diberikan dalam masa pembelajaran adalah tentang osteoporosis, disampaikan oleh dr. Gede S. Sumardana, SpOG, seorang dokter spesialis kandungan. Evaluasi kegiatan belajar dilakukan melalui wisata edukatif ke Kota Malang pada 24 Januari 2025.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bondowoso, Anisatul Hamidah, memberikan apresiasinya kepada para tokoh agama dan masyarakat yang menggagas Selantang. “Mereka yang punya inspirasi, bukan kami. Mereka sendiri yang mengusulkan sekolah lansia lintas agama dan lintas suku,” jelasnya.
Anisatul menegaskan bahwa Selantang adalah hasil kolaborasi antara BKKBN dan PKK dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup lansia, baik secara fisik maupun mental. “Prinsipnya kami ingin para lansia bahagia dan sehat. Ini juga upaya untuk meningkatkan angka harapan hidup di Bondowoso, yang kini rata-rata 70 tahun untuk laki-laki dan 73 tahun untuk perempuan,” tuturnya.
Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan door prize kepada tiga peserta tertua. Tercatat, peserta termuda berusia 55 tahun, sementara peserta tertua mencapai usia 85 tahun. [awi/ian]






