Surabaya (beritajatim.com) – Pagelaran seni rupa Biennale Jatim mengadakan jumpa pers di Wisma Jerman (22/12). Dalam acara tersebut disampaikan bahwa memasuki penyelenggaraan yang kesepuluh, Biennale Jatim akan menampilkan pilihan seniman dan karya yang berangkat dari pembacaan wilayah kesenian secara geografis.
Secara umum, Biennale Jatim X memetakan wilayah kebudayaan di Jawa Timur ke dalam tiga tendensi geografis, yaitu komunitas masyarakat pegunungan, komunitas masyarakat pesisir, dan komunitas masyarakat perkotaan.
“Kami percaya bahwa karakter kesenian sebuah komunitas masyarakat dipengaruhi oleh tanah dan lingkungan tempat mereka tinggal,” kata Dwiki Nugroho Mukti, Direktur Yayasan Biennale Jawa Timur.
Biennale Jatim yang akan diadakan pada bulan September dan Oktober tahun depan akan menelusuri kembali corak kesenian yang ada di Jawa Timur yang hingga saat ini masih kuat dipengaruhi oleh suasana geografis yang spesifik. Misalnya kesenian di daerah pegunungan memiliki ekosistem yang khas bila dibandingkan dengan kesenian yang muncul di wilayah pesisir dan perkotaan. Sangat mungkin keragaman geografis dan tata ruang di Jawa Timur turut memicu keragaman produksi kesenian di dalamnya.
Pemetaan tersebut juga memudahkan proses kuratorial yang akan berpijak pada konsep perpaduan kebudayaan (cultural synthesis). Meskipun terikat oleh tanah, hampir semua komunitas masyarakat hari ini menerima pengaruh dari luar lingkup kebudayaan yang mereka miliki. Selain itu, ada juga perpaduan antarekosistem seni yang terjadi akibat terhubungnya masyarakat dunia sebagai imbas dari perkembangan pengetahuan, transportasi hingga teknologi komunikasi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”seni-rupa”]
Melalui kerangka tersebut Biennale Jatim mengusahakan rancang jaringan kerja antar wilayah kebudayaan di Jawa Timur, dan menghubungkan diri dengan berbagai kelompok seni dan seniman dari berbagai negara.
“Saya berharap Biennale Jatim X dapat menjadi ruang temu bagi seniman dan kelompok seni dari berbagai latar budaya, sehingga dapat menghasilkan paduan kultural yang kaya,” kata Ayos Purwoaji yang berperan sebagai Direktur Artistik.
Agenda utama Biennale Jatim X direncanakan berlangsung selama sebulan antara September-Oktober 2023. Pagelaran ini juga melibatkan puluhan program yang tersebar di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Timur. “Biennale Jatim membuka kesempatan bagi seniman dan kelompok seni untuk berpartisipasi menyusun beragam program dan pertunjukan, sehingga perhelatan ini bisa tetap memiliki bentuk yang inklusif,” ujar Syska Liana, Direktur Program dalam Biennale Jatim X.

Melibatkan Tiga Kurator Muda
Dalam jumpa pers tersebut juga disampaikan bahwa Yayasan Biennale Jawa Timur menunjuk tiga orang kurator yaitu Lisistrata Lusandiana, Bintang C. Putra, dan Lucky C. Pratama. Ketiganya akan mengadakan perjalanan riset, memilih seniman dan karya-karyanya untuk ditampilkan dalam Biennale Jatim X. Setiap kurator ini akan bekerja dengan satu wilayah dan isu yang spesifik.
Lucky C. Pratama, sebagai kurator yang berasal dari Lamongan, akan berfokus pada isu-isu terkait wilayah pesisir. “Bentang kebudayaan pesisir di Jawa Timur sangat menarik dan kompleks, saya berusaha untuk memetakan geliat kesenian yang terjadi di wilayah tersebut,” ujar Lucky.
Sementara dua kurator lain, akan berbagi tugas untuk mendalami tema terkait wilayah pegunungan dan perkotaan. “Saya lahir dan besar di Yogyakarta dan sebetulnya tidak dekat dengan kawasan pegunungan, jadi ini merupakan tantangan bagi saya untuk belajar kepada kelompok-kelompok seni yang tumbuh di kawasan pegunungan,” kata Lisistrata Lusandiana.
Bintang C. Putra yang akan berfokus pada tema mengenai perkotaan berharap bahwa Biennale Jatim dapat menjadi wadah untuk membicarakan isu mengenai ketimpangan yang dihasilkan dari kecepatan pembangunan kota. “Pada akhirnya, saya berharap agar pagelaran ini bisa memberikan dampak bagi masyarakat luas,” kata Bintang. [but]
BIENNALE JATIM
Biennale Jatim adalah perhelatan akbar seni rupa yang diadakan dua tahun sekali dan sejak 2022 diorganisir oleh Yayasan Biennale Jawa Timur. Pada tahun 2005, Biennale Jatim 1 diadakan di Surabaya sebagai tolok ukur pencapaian seni bagi seniman di Jawa Timur. Sejak tahun 2019-2021, Biennale Jatim dikelola oleh anak-anak muda yang lebih menekankan pada eksperimentasi dan pola inklusif yang memungkinkan seniman individu maupun kelompok yang mempunyai inisiatif dapat turut terlibat membangun bentuk Biennale Jatim.
PROFIL TIM KURATOR BJX
Lisistrata Lusandiana bekerja sebagai Direktur Eksekutif IVAA sejak tahun 2018. Sebelumnya, pada tahun 2016, ia bekerja sebagai Kepala Program IVAA, juga sebagai Direktur Festival Arsip pada tahun 2017. Pernah terlibat sebagai peneliti dan asisten kurator dalam Biennale Jogja 2015 ‘Hacking Conflict’ dan menjadi koordinator Biennale Forum pada Biennale Jogja 2017 ‘Age of Hope’. Selain itu, ia juga menulis untuk majalah seni budaya; menjadi redaktur majalah Mata Jendela; serta terlibat dalam beberapa pameran, proyek seni, dan penelitian. Lulus dari Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan tesis seputar Etnografi Backpacker, kajian kritis tentang mobilitas masyarakat dan kosmopolitanisme. Belakangan ini, ia tengah fokus dalam mengembangkan program-program terkait dekolonisasi dan budaya dokumentasi.
Bintang C. Putra adalah seorang seniman visual dan periset urban. Aktif menginisiasi berbagai kegiatan seni yang didasari oleh kegelisahannya akan ketimpangan ekonomi-sosial dalam masyarakat. Memiliki preferensi untuk menghelat kegiatan pedagogis dalam kampung, seperti lokakarya atau residensi, lengkap dengan pameran karya in-situ di tiap acara. Sejak tahun 2017, secara rutin mengadakan lokakarya internasional Alter-Shelter untuk mengapresiasi bentuk-bentuk hunian dan cara bertinggal alternatif. Ia juga terlibat dalam beberapa proyek kuratorial seperti Massive Influx Study Activity (2014), Metapola (2018) dan Tumbuh Seikat (2019). Saat ini berperan sebagai direktur kelompok studi Operations for Habitat Studies (OHS) dan turut serta mendirikan Institut Seni Tambak Bayan (ISTB).
Lucky C. Pratama adalah kurator independen dan pengajar seni rupa di Universitas Adi Buana Surabaya. Sejak 2015, ia mulai kerap menulis dan menggagas aktifitas peristiwa seni rupa di Surabaya dan sekitarnya. Beberapa proyek kuratorial yang pernah ia kerjakan antara lain pameran “Ketika Bentuk Tak Berpucuk” (2020), “Asin Ongghu” (2021), dan “WAR” (2022). Pada tahun 2016, ia mendirikan kelompok seni Ruangan Samping. Sebagai peneliti, belakangan ia berfokus pada kajian mengenai fenomena ruang-ruang alternatif dan anatomi komunitas-komunitas seni yang tumbuh secara organik.






