Surabaya (beritajatim.com)- Bagi kaum Milenial, masa kecil identik dengan bermain di halaman rumah, memanjat pohon sepulang sekolah, atau mencari buah liar yang tumbuh subur di kebun dan pinggir jalan. Aktivitas sederhana itu menjadi memori menyenangkan yang tak terlupakan.
Dulu, buah-buah lokal mudah sekali ditemui. Namun kini, sebagian besar mulai jarang terlihat karena tergeser pembangunan dan tren buah impor. Mari kita bernostalgia dengan beberapa buah jadul favorit anak 90-an yang mungkin masih melekat di ingatanmu.
Ciplukan
Ciplukan berbentuk bulat kecil dengan kulit tipis menyerupai lampion kering. Saat kulitnya dibuka, akan tampak buah berwarna kuning-oranye dengan rasa manis-asam yang khas. Dahulu, ciplukan sering ditemukan di semak liar, sawah, atau kebun. Bagi anak-anak 90-an, menemukan ciplukan ibarat mendapatkan harta karun kecil. Kini, ciplukan justru banyak dibudidayakan sebagai buah eksotis dengan harga cukup mahal, padahal dulu bisa dipetik gratis.
Cermai
Buah berwarna hijau kekuningan ini berbentuk bulat mungil dan terkenal dengan rasa asam segarnya. Cermai biasanya dimakan langsung, dicocol garam, atau diolah menjadi rujak sederhana. Pohonnya sering tumbuh di halaman rumah, sehingga mudah dijangkau anak-anak. Walau asam, cermai selalu jadi rebutan karena sensasi segar yang membuat lidah tak berhenti bergoyang.
Kerse
Buah mungil berwarna merah terang ini dikenal juga dengan nama talok atau cherry kampung. Pohon kersen biasanya tumbuh rimbun di pinggir jalan, sehingga buahnya gampang dipetik. Rasanya manis ringan, cocok dijadikan cemilan saat bermain. Anak-anak 90-an sering memakan kersen langsung tanpa dicuci, sekadar untuk menghilangkan haus. Pohonnya juga jadi tempat berteduh favorit saat panas terik.
Jamblang atau Juwet
Buah berwarna ungu tua hampir hitam ini berbentuk oval dengan rasa manis bercampur sepat. Jamblang sering meninggalkan warna ungu pada lidah dan gigi, sehingga anak-anak suka berlomba menunjukkan siapa yang paling ungu. Buah ini banyak tumbuh di pedesaan, tetapi kini semakin sulit ditemui, terutama di perkotaan.
Kenitu
Kenitu atau star apple punya kulit hijau keunguan dengan daging buah lembut manis. Cara memakannya unik, cukup dibelah dan disendok. Rasanya segar, meski sedikit lengket di mulut. Buah ini dulu sering ditemukan di pekarangan rumah orang tua, tetapi kini mulai langka.
Kesemek
Kesemek dikenal dengan sebutan “buah apel lokal” karena bentuknya mirip apel kecil berwarna oranye pucat. Rasanya manis sepat, biasanya dimakan setelah dikeringkan atau ditaburi kapur sirih agar hilang sepatnya. Kesemek banyak tumbuh di daerah pegunungan, terutama Jawa.
Karamunting
Buah kecil berwarna merah keunguan ini tumbuh liar di semak atau hutan. Rasanya manis-asam, sering dimakan langsung saat bermain di alam. Meski sederhana, karamunting jadi kenangan manis bagi anak-anak kampung yang tumbuh dekat dengan alam.
Siwalan
Buah ini berasal dari pohon lontar, mirip kolang-kaling namun berisi cairan segar. Siwalan banyak ditemui di daerah pesisir seperti Jawa Timur. Rasanya manis menyegarkan, cocok dimakan saat panas. Dulu, buah ini jadi pelepas dahaga alami bagi anak-anak yang bermain di sawah atau pantai.
Buah-buah jadul ini bukan sekadar cemilan alami, tapi juga bagian dari kenangan indah masa kecil. Setiap gigitannya menghadirkan nostalgia akan masa sederhana tanpa gadget, ketika kebahagiaan bisa ditemukan dari pohon di halaman rumah atau semak liar di pinggir jalan. Sayangnya, kini banyak dari buah tersebut semakin sulit ditemukan. Maka dari itu, menjaga dan melestarikan pohon buah lokal penting dilakukan agar generasi berikutnya juga bisa merasakan manisnya kenangan jadul. [Nazala]






