Jombang (beritajatim.com) – Angin kencang yang datang tanpa ampun mengoyak ketenangan petang di Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Sabtu (21/2/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.
Saat sebagian besar warga sedang menikmati buka puasa, bencana datang tiba-tiba dengan kekuatan puting beliung yang merusak rumah-rumah dan fasilitas umum.
Badai tersebut tak hanya menghanguskan atap rumah-rumah yang tak sempat berlindung, tetapi juga menyapu pohon-pohon besar yang tumbang, menambah kesan mencekam di tengah desa yang biasanya tenang.
Masyarakat, yang tak menyangka bencana akan datang begitu cepat, segera bergotong royong membersihkan sisa-sisa kerusakan hingga Minggu (22/2/2026) pagi. Di bawah sinar matahari yang mulai muncul, mereka bekerja bersama, mengumpulkan puing-puing, dan mengamankan bangunan yang masih bisa diselamatkan.
Kerusakan yang paling mengiris hati terjadi di musala dan kantor MI Miftahul Ulum, Dusun Klagen. Atap musala yang terbang diterjang angin meninggalkan hanya dinding dan alas bangunan yang beruntung masih tegak berdiri.
Sisa-sisa material atap bahkan menimpa genteng ruang sekolah yang berada tak jauh dari lokasi. Kejadian yang memilukan ini menyisakan kenangan pahit, namun di balik tragedi ini, ada satu kebersyukuran yang patut diapresiasi: tidak ada korban jiwa.
Selain angin kencang, fenomena langka juga terjadi: hujan es yang mengguyur desa yang berbatasan dengan Kecamatan Jombang Kota itu. Petugas dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jombang langsung terjun ke lokasi untuk melakukan assessment bencana.
Hasilnya, enam rumah, dua fasilitas umum, dan satu tempat usaha dilaporkan rusak, dengan kerusakan berkisar dari ringan hingga sedang.
“Rata-rata yang rusak adalah bagian atap. Untuk fasilitas umum, sebagian besar kanopi dan tempat parkir yang terimbas. Sementara itu, warung kopi juga mengalami kerusakan parah pada bagian atap,” jelas Bagus Kurniawan, anggota BPBD Jombang.
Meski kerusakan material masih dihitung, sebuah hal yang paling penting adalah tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tragis ini. Warga, dengan semangat gotong royong, tetap teguh dalam menghadapi cobaan ini, berusaha mengembalikan keadaan yang hancur menjadi lebih baik. [suf]






