Jakarta (beritajatim.com) – Wacana penggunaan belalang dan ulat sagu sebagai menu alternatif dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Meski kaya protein, para ahli gizi mengingatkan adanya potensi alergi dan risiko kontaminasi pestisida.
Pengurus Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) sekaligus Dosen Kesehatan Gizi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Fahmi Arif Tsani, menekankan pentingnya pengolahan yang baik agar belalang dan ulat sagu aman dikonsumsi.
Risiko Alergi dan Kontaminasi Pestisida
Menurut Fahmi, produk olahan serangga seperti belalang dan ulat sagu memiliki kandungan protein yang tinggi. Namun, jika tidak diolah dengan benar, risiko kontaminasi pestisida masih mengintai.
“Cara pengolahannya harus dengan pemanasan yang tinggi agar potensi adanya pestisida bisa diminimalisir,” ujar Fahmi melansir portal resmi Nahdlatul Ulama.
Ia juga menyoroti faktor keamanan sumber belalang tersebut. Pasalnya, serangga yang hidup liar bisa saja mengonsumsi tanaman yang telah disemprot pestisida oleh petani.
Potensi Alergi dan Faktor Penerimaan Masyarakat
Selain keamanan pangan, Fahmi mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa menerima belalang dan ulat sagu sebagai makanan. Beberapa individu mungkin mengalami reaksi alergi terhadap protein serangga. Selain itu, faktor budaya dan kehalalan juga perlu diperhatikan.
“Bagi sebagian orang, serangga mungkin dianggap menjijikkan sehingga tidak bisa diterima sebagai makanan sehari-hari,” tambahnya.
Meski begitu, Fahmi mengakui bahwa di beberapa daerah seperti Gunung Kidul, belalang sudah menjadi makanan yang umum dikonsumsi.
“Saya pernah mencoba belalang goreng di Gunung Kidul, rasanya enak juga,” katanya.
Kandungan Gizi Serangga dan Ulat Sagu
Secara nutrisi, belalang dan ulat sagu memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Dalam 100 gram belalang kering, terdapat sekitar 15-20 gram protein, yang hampir mencukupi separuh kebutuhan protein harian.
“Selain protein, ulat sagu dan belalang juga mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup tinggi,” jelas Fahmi.
Serangga Sebagai Menu Alternatif MBG?
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyatakan bahwa menu Makan Bergizi Gratis bisa menyesuaikan dengan kebiasaan makan di daerah tertentu.
“Itu bisa menjadi menu di daerah-daerah yang memang terbiasa mengonsumsi belalang,” ujar Dadan.
Namun, Dadan menegaskan bahwa program MBG tidak menetapkan standar menu nasional, melainkan berpedoman pada standar komposisi gizi.
“Badan Gizi Nasional tidak menetapkan menu wajib, tetapi lebih kepada standar gizi yang harus dipenuhi dalam setiap sajian,” tambahnya.
Dengan demikian, pemanfaatan serangga sebagai sumber protein alternatif dalam program MBG masih bergantung pada faktor budaya, kebiasaan masyarakat, serta keamanan pangan yang harus diperhatikan dengan cermat. [aje]






