Surabaya (beritajatim.com)- Bagi sebagian orang, melihat ulat sagu dimakan mungkin terasa aneh atau bahkan menakutkan. Bentuknya yang putih, gemuk, dan menggeliat sering membuat orang ragu untuk mencobanya.
Namun di balik tampilannya, ulat sagu ternyata merupakan makanan tradisional yang sudah lama dikonsumsi oleh berbagai masyarakat dan dikenal memiliki banyak manfaat.
Ulat sagu adalah larva dari kumbang merah (red palm beetle) yang biasanya hidup di batang pohon sagu atau kelapa yang sudah tua dan tumbang. Larva ini memakan bagian empulur sagu yang kaya pati sehingga tubuhnya menjadi besar dan bersih. Karena kandungan gizinya yang tinggi, masyarakat pedalaman sering menyebutnya sebagai “emas hutan”.
Kebiasaan makan ulat sagu bukanlah tren baru. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu dan diwariskan turun-temurun. Menurut Southeast Asian Archaeology, penemuan arkeologi di kawasan Danau Sentani, Papua, menunjukkan bahwa manusia purba telah mengonsumsi ulat sagu sejak ribuan tahun lalu. Hingga sekarang, ulat sagu masih menjadi bagian penting budaya masyarakat seperti suku Melanau dan Iban di Kalimantan.
Banyak orang yang sudah mencoba ulat sagu mengaku terkejut karena rasanya ternyata enak. Teksturnya lembut dan gurih, bahkan sering disebut mirip mentega yang meleleh di mulut. Ada juga yang mengatakan rasanya seperti kacang mete panggang atau daging asap.
Salah satu alasan ulat sagu digemari adalah karena kandungan gizinya yang tinggi, terutama proteinnya. Ulat sagu mengandung banyak asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk membangun otot dan menjaga fungsi tubuh tetap normal. Karena itu, ulat sagu menjadi sumber protein alternatif yang baik, terutama bagi masyarakat di pedalaman.
Selain kaya protein, ulat sagu juga mengandung serat yang baik untuk pencernaan dan membantu metabolisme tubuh. Di dalamnya terdapat mineral penting seperti kalsium dan magnesium yang membantu menjaga kesehatan tulang dan gigi. Tidak heran jika makanan ini sering diberikan kepada anak-anak di daerah pedesaan untuk membantu pertumbuhan mereka.
Ulat sagu juga dikenal ebih ramah lingkungan dibandingkan daging sapi atau ayam. Dalam penjelasan WUR eDepot, budidayanya membutuhkan lebih sedikit lahan dan air, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah. Ulat sagu juga tumbuh cepat sehingga dianggap sebagai sumber pangan yang lebih berkelanjutan.
Bagi yang ingin mencobanya, ulat sagu bisa diolah dengan cara digoreng, dibakar, atau dijadikan sate agar rasanya lebih mudah diterima. [Wakhdah Alisa Berliana]

as a preferred source on Google




