Surabaya – Di sudut ruang redaksi, Pramudita RM mengetik perlahan. Hanya tangan kanannya yang bisa bergerak. Kaki kirinya tidak lagi sekuat dulu. Tapi pikirannya masih tajam, dan hatinya tetap bulat. Ia ingin tetap berguna, meski tidak lagi sempurna.
Sejak tahun 2014, Pramudita atau karib disapa Pram menjadi bagian dari Suara Surabaya Media. Ia memulai sebagai admin media sosial, lalu berkembang menjadi penulis naskah berbagai konten digital.
Ia tidak berasal dari dunia penyuntingan atau produksi, tetapi menemukan tempatnya dalam ide dan kata.
Namun hidup berubah seketika pada Juni 2024. Saat sedang makan bersama istrinya, tubuhnya tiba-tiba lemas sebelum ia sempat menghabiskan makanannya.
“Tiba-tiba kata istriku aku tiba-tiba, kamu kok ngiler, tiba-tiba aku miring ke kiri. Setelah itu tidak berfungsi sampai sekarang,” ceritanya.
Ia dilarikan ke rumah sakit. Diagnosisnya adalah penyumbatan di otak. Dampaknya tidak ringan. Tangan dan kaki kirinya tidak lagi bisa digerakkan seperti biasa. Hari-hari setelahnya diisi dengan kebingungan, ketidaknyamanan, dan banyak tidur.
“Kan awal-awalnya aku belum kerja yo, aku malah awalnya itu belum bisa duduk jadi aku cuma tidur terus itu sebulan atau dua bulan awal gitu jadi aku tidur tok jadi ya nggak enak semua,” kenangnya.
Namun di tengah kondisi yang membatasi geraknya, Pram menemukan alasan untuk bangkit. Ia menyebut pekerjaan dan keberadaan orang-orang di sekitarnya sebagai sumber semangat yang nyata.
“Kalau aku gak kerja, aku di rumah aja malah bingung mau ngapain. Tapi kadang-kadang kan kalau aku gak ke kantor aku juga kerja dari rumah kan,” ujarnya.
Bagi Pram, suasana kantor bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga tentang kebersamaan yang sulit digantikan.
Ia merasa lebih hidup saat berada di tengah rekan-rekan. “Kalau di kantor kan aku ketemu teman-temanku. Aku lihat anak-anak itu senang ada temannya lah gitu. Dapat semangat ya dari sini ada teman ngobrol gitu,” lanjutnya.
Pram tahu keterbatasan itu nyata, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendiri. Teman-temannya di kantor menjadi penguat. Mereka tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga hadir secara emosional.
Ia merasa dikelilingi oleh perhatian kecil yang terus ia syukuri setiap hari. Mulai dari waktu makan hingga hal-hal yang sangat pribadi, semuanya terasa ringan karena ada yang peduli.
“Kadang-kadang aku gak sendiri mereka langsung keluar oh mau makan ya kayak tadi jam segini gak makan ta mas langsung dibuka gitu makananku,” ujarnya.
Tak hanya itu, perhatian rekan-rekannya juga tercermin dari hal-hal sederhana yang sangat berarti dalam keseharian.
“Sama kayak obat-obatku juga digituin juga disiapin kadang-kadang terus aku juga bawa tumbler sama mereka biasanya langsung diangkat ada isinya gak kalau gak ada terus diisikan itu hampir tiap hari sama tadi pagi juga,” lanjutnya.
Di balik dukungan itu, Pram menyimpan harapan kecil yang terus ia jaga.
“Aku bahkan sampai kayak apa ya ngomong dalam diriku sendiri besok kalau aku udah bisa jalan lah minimal aku pengen traktir anak-anak” katanya. Ia selalu menyebut nama-nama mereka dalam doanya.
Tak hanya dari teman kerja, kekuatan Mas Pram juga datang dari rumah. Saat ditanya siapa yang paling besar perannya dalam masa pemulihan ini, ia menjawab tanpa ragu “Ada istriku,” ucapnya.
Ketika ditanya apa pelajaran terbesar dari semua ini, Pram menjawab tanpa ragu.
“Oh ya sehat itu penting banget, menjaga kesehatan itu sangat-sangat penting,” Ia juga menitipkan pesan kepada siapa pun yang saat ini masih dalam kondisi sehat, agar tidak menyia-nyiakan nikmat yang kerap terlupakan. “Buat teman-teman yang masih sehat, kesehatan itu yang utama kamu punya apapun tapi gak sehat ya sama aja,” tambahnya.
Bagi Pram, pekerjaan bukan lagi soal target. Ini tentang bertahan. Bukan hanya mencari penghasilan, tetapi tentang merasa berguna. Ia tidak pernah menyebut dirinya inspiratif. Bahkan merasa dirinya biasa saja. Tapi justru dari situlah kekuatan ceritanya tumbuh. Dari kejujuran, dari usaha kecil yang ia lakukan setiap hari.
“Aku mikir, ya untung aku masih bisa kerja, duduk depan komputer, kerjaanku gini cuma ngetik-ngetik tok. Ada orang lain di sana yang sakit stroke yang parah banget gitu, mereka kerjanya harus di luar, panas-panasan mungkin, atau kenapa gitu. Kan ya kalau aku nggak memanfaatkan ini, kan aku nggak bersyukur banget gitu loh sama Tuhan.,” ucapnya.
Bekerja bukan hanya rutinitas, tapi bagian dari siapa dirinya. Ia tidak ingin berhenti hanya karena tubuhnya melambat. Namun setiap gerak yang ia lakukan, sekecil apapun, adalah bentuk keberanian untuk melanjutkan hidup. Di balik jemari yang perlahan ada tekad yang tetap menyala. Di balik senyum tipisnya tersimpan harapan yang terus dijaga agar tidak padam.
Penulis: Anita Wulandari
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






