Surabaya (beritajatim.com)– Tren tempat nongkrong di Surabaya kini semakin variatif dengan hadirnya tiga kafe bertema unik yang menggabungkan hiburan interaktif dan kenyamanan berkumpul.
Tiga kafe tersebut adalah Dua Satu Cafe, Teras Rayu, dan Nexus Tabletop, yang sukses menarik perhatian anak muda serta komunitas kreatif.
Ketiga kafe ini menawarkan konsep berbeda dari kafe pada umumnya. Mulai dari bermain konsol PlayStation, membuat kerajinan tangan, hingga bermain board game, pengunjung dapat menikmati aktivitas seru sembari bersantai.
Dua Satu Cafe: Nongkrong Sambil Main PS Hingga Nintendo Switch
Berlokasi strategis di Surabaya, Dua Satu Cafe mengusung konsep unik dengan menyediakan area bermain konsol seperti PS3, PS4, hingga PS5. Tak hanya itu, ada juga ruang VIP yang dilengkapi Nintendo Switch.
“Tinggi, terutama untuk VIP room itu kan ada Nintendo Switch, spot itu terutama yang dicari. Kalau yang di bawah ini seperti biasa orang-orang nongkrong sambil main PS biasa, ya. Kalau yang VIP room biasanya pasangan,” ujar Daniar Christianto, salah satu pegawai.
Tarif sewa konsol pun cukup terjangkau. Di lantai satu, pengunjung bisa menyewa PS3 dan PS4 seharga Rp12.000 per jam, PS5 Rp15.000 per jam, sedangkan VIP room di lantai dua dikenakan Rp25.000 per jam.

Daniar menambahkan bahwa pengunjungnya sangat beragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Ada juga, kayak anak-anak SD, tapi kebanyakan sih ini orang kerja. Jadi habis pulang kerja main PS,” jelasnya.
Salah satu pengunjung, Asy Syifa Mahardika, mengaku nyaman bermain di sana. “Nyaman sih, sama ada nih PS-nya. Kalau untuk game favoritnya, nih, Resident Evil,” katanya.
Ia juga menambahkan, suasana bermain di kafe ini berbeda dari di rumah. “Karena di sini kan tempatnya buat main. Kalau di rumah kan nggak buat main,” imbuhnya.
Teras Rayu: Kafe Rumah dengan Aktivitas Kreatif
Berbeda dari kafe pada umumnya, Teras Rayu hadir dengan konsep homey yang menyatu dengan suasana rumah tinggal. Kafe ini memanfaatkan area teras rumah menjadi ruang nyaman untuk bersantai sambil berkreasi.
“Kenapa namanya Teras Rayu? Karena awalnya ini rumah tempat tinggal, nah karena terasnya nggak kepake atau kita jarang kedatangan tamu, akhirnya kepikiran kenapa nggak dimanfaatin jadi kafe. Itu akhirnya namanya jadi Teras Rayu karena memanfaatkan teras rumah. Idenya dari kakak sendiri,” jelas Radinka Frisia, pengelola kafe.

Kafe ini juga dikenal dengan menu gluten free dan berbagai kegiatan kreatif seperti melukis di kanvas atau tote bag, membuat gelang dan kalung dari manik-manik, serta membuat clay art dan shoe charm.
Pengunjung tetapnya, Syifa, mengaku menyukai suasana di Teras Rayu. “Aku ke sini karena suka konsepnya, nggak terlalu ramai. Terus makanannya juga enak, harganya terjangkau,” ucapnya.
Nexus Tabletop Gabungkan Kafe dan Board Game
Sementara itu, Nexus Tabletop menggabungkan kafe dan board game. “Ya ada contohnya yang lagi dimainkan itu ada Ticket to ride, itu tentang membangun kereta atau ini namanya kuk ini favorite orang juga sama king of tokyo, catan juga itu favorit orang,” jelas Game Master, Laurentius Zetakristiano.

Ia menambahkan bahwa seluruh pengunjung dapat bermain bebas sepanjang hari. “Kalau peminjaman sementara gak ada ya, tapi kalau definisi meminjam disini ya datang kesini ini bisa dengan bayar entrinya bisa diperboleh main. kita sebagai GM juga ngajarin kok tenang.”
Nexus Tabletop juga rutin menjadi tempat berkumpulnya komunitas game seperti One Piece dan Magic the Gathering. Nuril Qolbi Zam Zami, salah satu pengunjung yang datang ke Nexus Tabletop, mengatakan: “Nyaman-nyaman aja,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kalau di sini terang banget sih tempatnya, terus nyaman. Kadang kalau ada yang nggak tahu game-nya bisa langsung dibantu juga.”
Ketiga kafe ini kini menjadi alternatif baru bagi anak muda Surabaya yang ingin menghabiskan waktu dengan cara yang lebih bermakna. Tidak hanya menyajikan kopi dan ruang untuk berbincang, tempat-tempat ini juga menghadirkan kesempatan untuk bermain, berkreasi, dan membangun interaksi sosial secara langsung.
Penulis: Anita Wulandari
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






