Jember (beritajatim.com) – Achmad Imam Fauzi, Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur, meyakini target pendapatan asli daerah (PAD) menembus Rp 1,6 triliun pada akhir masa pemerintahan Bupati Muhammad Fawait bisa terealisasi.
“Ketika Gus Bupati bilang, ‘di tahun 2026 menyentuh Rp 1 triliun’, saya kaget. Tapi saya meyakini ketika saya galau, ‘mengimani’ pemimpin adalah sebuah keniscayaan. Kami meyakini ‘yakin usaha sampai’,” kata Fauzi, dalam konferensi pers tentang capaian pendapatan, di kantor Bapenda Jember, Selasa (6/1/2026).
Akhirnya PAD Jember 2025 benar-benar menembus angka Rp 1,024 triliun setelah sebelumnya pada 2024 mencapai Rp 774 miliar.
Fauzi mengaku sempat tidak percaya dengan capaian itu. Namun dengan keberhasilan tersebut, dia yakin target PAD lebih besar lagi akan bisa digapai. “Saya optimistis Rp 1,3- 1,6 triliun itu bukan mimpi,” katanya.
Fauzi menilai kepemimpinan menjadi faktor utama keberhasilan capaian target itu. “Saya membaca Gus Bupati memberikan ruang kreasi tetapi ada konsekuensi. Ada stick and carrot, reward and punishment,” katanya.
Fauzi ingat saat awal dipercaya menjadi Kepala Bapenda Jember. “Saya bingung, karena saya (hanya) biasa mengurusi belanja. Paham teori,” katanya.
Fauzi kemudian memilih belajar langsung dari Fawait yang pernah menjadi Ketua Komisi C DPRD Jawa Timur yang mengurusi pendapatan. “Secara satire, Gus Bupati bilang, ‘Pak Fauzi, di sana banyak copetnya’,” katanya.
Menurut Fauzi, copet di sini dimaknai bukan kata benda atau sifat, melainkan kata kerja. “Maknanya adalah lakukan efisiensi, tutup kebocoran. Maka langkah taktis yang kami lakukan adalah memitigasi semuanya, karena sebaik apapun sistem di dalam teori manajemen, masih kalah dengan leadership, keteladanan,” katanya.
Janji politik Fawait untuk menurunkan nominal retribusi pasar sempat membuat Fauzi penasaran. “Saya ingat ketika saya masih jadi Kepala Dinas Perpustakaan saat itu. Saya berpikir: gila orang ini. Menurunkan retribusi pasar 100 persen, apa betul?” katanya.
Langkah Fawait ini, menurut Fauzi, mengarah pada teori utilitarianisme filsuf Inggris Jeremy Bentham daripada teori libertarian yang individualistis. “Jeremy Bentham mengatakan greatest good for the greatest number,” katanya.
Dalam teori utilitarianisme ini, lanjut Fauzi, sebuah kebijakan dikeluarkan untuk memaksimalkan kebahagiaan secara keseluruhan dan meminimalkan penderitaan bagi sebagian besar masyarakat. “Jadi lebih ke kiri-kirian, sosialistis policy-nya,” katanya.
Fauzi mengaku kagum saat membaca visi dan misi Fawait. “Gila-gilaan orang ini keberpihakannya. Apa pesan beliau? Pajaki orang kaya, jangan pajaki orang miskin,” katanya.
Bupati Muhammad Fawait dengan nada bercanda mengaku beruntung karena pidato Fauzi tidak didengar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “Kalau didengar Trump bahwa saya ke kiri-kirian, bisa diculik kayak Presiden Venezuela,” katanya disambut tawa hadirin yang mengikuti konferensi pers tersebut.
Menurut Fawait, dengan tidak menekan masyarakat kelas ekonomi bawah yang identik dengan sebutan masyarakat kecil, bukan berarti kebijakannya hendak menekan masyarakat kelas atas.
Fawait menginstruksikan peningkatan PAD harus dicapai dengan cara efisiensi dan menutup kebocoran tanpa menaikkan pajak. “Masyarakat kecil di Jember tidak boleh dicekik,” katanya. [wir]






