Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus menekan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Dalam hal ini, Pemkab Banyuwangi turut melibatkan dokter, perawat, hingga para bidan untuk mengatasinya.
“Sama seperti dengan penanganan stunting, upaya penurunan AKI dan AKB tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak dalam penanganannya, baik medis maupun paramedis,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu (29/4/2023).
Secara khusus, Bupati Ipuk melakukan rakor bersama untuk melakukan percepatan penurunan AKI dan AKB tersebut. Sejumlah peserta dari pemerintah/swasta, kepala puskesmas, dokter, bidan, serta dokter spesialis Obgyn (SpOG), dan dokter spesialis anak (SpA) se-Banyuwangi ikut dalam rakor itu.
BACA JUGA:
Bupati Banyuwangi Dorong Inovasi Tekan Kematian Ibu Melahirkan
“Penguatan jejaring antar fasilitas layanan kesehatan sangatlah penting guna mewujudkan layanan kesehatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik,” ungkapnya.
Untuk itu, kata Ipuk, puskesmas sebagai fasilitas layanan dasar bertugas melakukan pelayanan promotif dan preventif dari sisi hulu. “Sementara di hilir, rumah sakit sebagai penerima layanan rujukan bertanggung jawab pada layanan kuratif dan rehabilitatif,” katanya.
Dalam penanganan ini, pemkab juga melibatkan dr. M. Nasir, Sp.OG (K), yang selama ini banyak menekuni masalah kesehatan ibu hamil dan bayi. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dilibatkan dalam upaya-upaya strategis pengurangan AKI dan AKB.
BACA JUGA:
Masa Pandemi, Apa Kabar Ibu Hamil dan Balita di Banyuwangi?
“Yang penting diintervensi adalah kesehatan calon ibu, agar tumbuh kembang janin yang dikandungnya kelak bisa optimal. Misalnya pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil tidak bisa disamaratakan semua, harus melihat riwayat si ibu juga. Kesehatan ibu menjadi faktor penting dan utama untuk sama-sama kita tangani,” kata Nasir. [rin/suf]






