Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sepakat melakukan kerjasama dengan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Kerjasama itu dalam hal pengolahan sampah di daerah untuk dijadikan bahan bakar alternatif.
Realisasi awal, Banyuwangi butuh sampah basah hingga 150 ton per hari. Dari jumlah itu nantinya akan menghasilkan 60-75 ton perhari Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif.
Selanjutnya, volume RDF akan terus meningkat secara bertahap. Targetnya, maksimal mencapai 250 ton per hari dari 500 ton sampah hingga 2027 mendatang.
Direktur Manufacturing SBI, Soni Asrul Sani menyebut ini adalah wujud komitmen SBI dan Pemkab Banyuwangi dalam mengatasi persoalan sampah. Selain itu, pihaknya juga memiliki target peningkatan RDF sebagai bahan bakar alternatif di perusahaan.
“Pabrik SBI di Tuban memiliki kapasitas mencapai 120-160 ton RDF per hari,” kata Soni.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handayani, menambahkan dalam pengolahan sampah menjadi RDF ini, pemkab akan didukung oleh PT. Bhakti Bumi sebagai operatornya.
“Selama ini kan hasil pemilahan sampah plastik yang tidak bisa diolah lebih lanjut ataupun tidak bisa diekspor, kita kirim ke Tempat Pemrosesan Akhir ( TPA). Namun dengan didukung PT. Bhakti Bumi, sampah yg low value akan diolah menjadi RDF, dan hasilnya dibeli SBI untuk dijadikan bahan bakar alternatif produksi semen,” kata Yani.
Dwi menyebut, pihaknya akan memasok sampah dari tiga lokasi untuk diolah menjadi RDF. Di antaranya, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Balak, Kecamatan Songgon, TPA dan TPST Wongsorejo, serta TPST Karetan yang sedang akan dibangun dalam waktu dekat.
“Target kami, produksi RDF bisa dimulai pada akhir tahun 2024 sambil menunggu persiapannya,” ujar Yani. [rin/aje\






