Surabaya (beritajatim.com) – Dalam lanskap digital yang semakin kompleks dan dinamis, ancaman siber menjadi tantangan serius bagi semua sektor, termasuk perbankan. Menyadari pentingnya keamanan siber, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (bankjatim) secara aktif menjalin kerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) Jawa Timur.
Pada tanggal 13 September 2024, bankjatim menggelar diskusi panel bersama BIN Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh seluruh jajaran direksi bankjatim serta perwakilan dari BIN Jawa Timur. Diskusi ini menjadi tonggak penting dalam upaya bankjatim untuk meningkatkan keamanan siber dan menerapkan prinsip good governance.
Direktur Utama bankjatim, Busrul Iman, dalam sambutannya menekankan bahwa investasi dalam keamanan siber adalah investasi jangka panjang yang sangat penting. “Keamanan siber bukan hanya sekadar teknologi, tetapi juga tentang budaya organisasi. Seluruh karyawan bankjatim harus memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya menjaga kerahasiaan data nasabah,” ujar Busrul.
Kepala BIN Jawa Timur, Brigjen Pol. Rudy Tranggono, dalam paparannya memaparkan bahwa modus operandi serangan siber semakin canggih dan sulit dideteksi. Pelaku kejahatan siber terus mengembangkan teknik-teknik baru untuk menyusup ke sistem dan mencuri data.
“Serangan siber tidak hanya mengancam keamanan data, tetapi juga dapat mengganggu operasional bisnis dan merusak reputasi perusahaan,” tegas Rudy.
Kerja sama antara bankjatim dan BIN Jawa Timur diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan keamanan siber, antara lain:
1.Peningkatan kapasitas sumber daya manusia: Melalui pelatihan dan sertifikasi, bankjatim akan meningkatkan kompetensi karyawan dalam menghadapi ancaman siber.
2. Penerapan teknologi keamanan terbaru:** Bank Jatim akan terus memperbarui sistem keamanan siber dengan teknologi terkini, seperti artificial intelligence dan machine learning.
3. Pengembangan sistem deteksi dini:Dengan sistem deteksi dini, bankjatim dapat mendeteksi serangan siber sejak dini dan melakukan tindakan mitigasi.
4. Kerjasama dalam berbagi informasi:** Bank Jatim dan BIN Jawa Timur akan saling berbagi informasi mengenai ancaman siber terbaru dan tren kejahatan siber.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang ancaman siber, berikut beberapa contoh kasus kejahatan siber yang sering terjadi:
Phishing: Serangan yang dilakukan dengan cara menipu pengguna untuk memberikan informasi pribadi yang sensitif, seperti password atau nomor kartu kredit.
Malware: Perangkat lunak berbahaya yang dapat merusak sistem komputer atau mencuri data.
Ransomware: Jenis malware yang mengenkripsi data dan meminta tebusan untuk mengembalikan data tersebut.
DDoS Attack: Serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan sebuah situs web atau layanan online dengan membanjiri server dengan lalu lintas yang sangat besar.
Masyarakat juga perlu berperan aktif dalam menjaga keamanan data pribadi. Beberapa tips yang dapat dilakukan
dengan menggunakan password yang kuat dan unik untuk setiap akun. Hati-hati dengan email atau pesan mencurigakan.
Hingga selalu memperbarui perangkat lunak dan sistem operasi.[rea]






