Surabaya (beritajatim.com) – Banjir informasi hingga tekanan isu global menjadi tantangan utama humas saat ini. Kondisi itu mengemuka dalam Surabaya’s Public Relations Jamboree (SPRJ) 2025 di Universitas Negeri Surabaya, Jumat (5/12/2025), yang menghadirkan praktisi dari sektor data digital, pertambangan, dan pupuk nasional.
Chief Executive Officer NoLimit Indonesia, Aqsath Raysid, menilai perubahan terbesar terjadi sejak era digital pasca-2000. Informasi yang dulu sulit diperoleh, kini justru datang tanpa henti. “Sekarang kita tidak butuh informasi, tapi informasi terus datang,” kata Aqsath.
Situasi itu, menurutnya, menuntut humas bekerja berbasis data dalam setiap tahap, mulai dari penanganan krisis, eksekusi komunikasi, hingga monitoring dan evaluasi.
Ia menegaskan tidak semua data layak dipublikasikan karena praktisi harus mampu membedakan antara suara publik yang relevan dan kebisingan informasi yang menyesatkan.
Praktisi Humas PT Merdeka Copper Gold Tbk, Indriani Siswati, menyoroti pentingnya pemahaman humas terhadap sektor industri yang ditangani, khususnya pertambangan.
Ia menyebut hasil tambang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari peralatan rumah tangga hingga teknologi. Indonesia juga menjadi negara penghasil nikel terbesar di dunia. “Kunci humas di pertambangan adalah mengenali stakeholder. Jika salah identifikasi, izin sosial untuk beroperasi bisa terganggu,” ujarnya.
Di tengah maraknya hoaks dan perubahan algoritma media sosial, tantangan humas dinilainya semakin berat karena analitik semakin kompleks.
Sementara itu, Praktisi Humas PT Petrokimia Gresik, Try Desriady, mengaitkan peran humas dengan isu strategis ketahanan pangan.
Ia menegaskan pangan menjadi fondasi utama kedaulatan negara. Ia mengutip pernyataan Presiden Prabowo bahwa tidak ada negara yang berdaulat tanpa kemampuan memproduksi makanannya sendiri.
Menurut Try, pupuk berperan besar di balik terpenuhinya kebutuhan pangan lebih dari 8,3 miliar penduduk dunia saat ini. “Pupuk adalah pahlawan tanpa tanda jasa,” katanya.
Try juga mengungkapkan transformasi kerja humas di perusahaannya dimulai dari pembenahan dokumentasi sebagai basis komunikasi.
Di era digital, seluruh strategi komunikasi kini diarahkan berbasis data. Ia menilai humas dituntut lincah mengikuti isu, mampu berpikir taktis, kreatif, dan adaptif terhadap tren.
Diskusi tersebut menegaskan peran humas kini tidak lagi sebatas menyampaikan informasi, tetapi mengelola data, isu, dan kepercayaan publik di tengah derasnya arus informasi, tekanan disinformasi, serta tuntutan transparansi yang semakin tinggi. [ipl/suf]






