Jember (beritajatim.com) – Bangsa Indonesia memiliki dua wajah yang kontradiktif. Selain dikenal dengan perilaku yang buruk dalam bermedia sosial, bangsa ini juga dikenal dermawan.
“Kadang-kadang di dalam perilaku bermedsos kita itu asal jeplak, asal viral. Kita enggak punya lagi daya empati,” kata Pembina Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia) Yudi Latif, dalam Kuliah Umum Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), di Gedung Auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Kamis (9/10.2025).
Sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (10/10/2025), Yudi Latif menyebut adanya kelemahan ‘actuarial intelligence’ dan daya empati pada generasi muda hari ini. Actuarial intelligence adalah kemampuan seseorang untuk menerka dan membayangkan dampak dari suatu tindakan terhadap bagi martabat diri sendiri dan kehidupan bersama.
Hal ini terlihat dari laporan Digital Civility Index Microsoft pada 2021 yanh menempatkan Indonesia di posisi pertama negara dengan tabiat bermedsos yang paling buruk di Asia Pasifik.
Hasil survei ini kontradiktif dengan The World Giving Index yang Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama tiga tahun berturut-turut.
Gotong royong, lanjut Yudi, merupakan kekuatan karakter yang menyatukan bangsa Indonesia di tengah keragaman. “Karakter ini terbukti masih hidup,” katanya.
Namun, Yudi memberi catatan kritis terhadap nilai positif gotong royong di masyarakat yang seringkali bertransformasi menjadi negatif, ketika masuk ke dalam dunia politik dan kenegaraan, seperti dalam bentuk korupsi berjamaah.
Namun Yudi menyerukan optimisme dan tantangan bagi mahasiswa. Indonesia memiliki sejarah gemolang sebagai episentrum inovasi global hingga abad ke-17 dan tempat tumbuhnya peradaban maritim pertama.
Yudi menyarankan kepada para mahasiswa untuk mengenali diri sendiri dan menjadi versi terbaik dari diri tersebut. “Itulah jalan Pancasila dengan mengaktualisasikan potensi kita,” katanya. [wir]
\






