Surabaya (beritajatim.com) – Bagi sebagian orang, terutama umat Muslim dan mereka yang menjalani pola makan tertentu, menghindari makanan yang mengandung babi menjadi hal yang sangat penting.
Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua bahan dari babi ditulis secara terang-terangan dalam daftar komposisi makanan?
Salah satu bahan yang sering digunakan dalam dunia kuliner namun kerap “tersembunyi” di balik istilah asing adalah minyak babi atau lemak babi.
Minyak ini bisa hadir dalam berbagai bentuk, dari yang digunakan untuk menggoreng hingga sebagai bahan utama dalam pembuatan pastry. Masalahnya, banyak istilah asing yang digunakan untuk menyebut lemak babi dalam label makanan—yang membuat konsumen sulit mengenalinya.
Agar tidak terkecoh, berikut ini adalah 10 nama lain dari minyak babi yang wajib kamu ketahui:
1. Lard
Lard adalah istilah paling umum untuk minyak babi yang telah dimurnikan. Biasanya berbentuk padat di suhu ruang dan berwarna putih, mirip dengan mentega. Lard sering digunakan dalam berbagai jenis masakan, terutama dalam pembuatan kue, pastry, dan pie crust karena bisa menghasilkan tekstur yang sangat renyah.
Cara pembuatannya adalah dengan melelehkan lemak babi hingga cair, lalu didinginkan hingga mengeras. Banyak restoran luar negeri mencantumkan keterangan “No Pork No Lard” untuk memastikan bahwa makanan mereka bebas dari bahan ini.
2. Shortening
Istilah ini sebenarnya merujuk pada lemak padat yang digunakan dalam pembuatan kue, seperti cookies atau roti. Meskipun banyak shortening yang berasal dari minyak nabati, beberapa produk bisa mengandung lemak babi sebagai bahan dasarnya. Oleh karena itu, penting untuk mengecek label dengan teliti agar tidak salah pilih.
3. Pork Fat
Secara harfiah berarti lemak babi, istilah ini bisa muncul dalam bentuk padat atau cair. Pork fat sering digunakan untuk menambah rasa gurih pada masakan, seperti sup, tumisan, atau olahan daging lainnya. Di beberapa negara, pork fat menjadi bahan tradisional yang sangat umum, terutama dalam hidangan rumahan.
4. Fatback
Fatback adalah lemak padat yang diambil dari bagian punggung babi. Biasanya digunakan dalam pembuatan sosis, charcuterie, dan makanan olahan lainnya karena bisa menjaga kelembapan dan menambah rasa pada hidangan. Di sejumlah negara, fatback juga bisa digoreng menjadi camilan atau diasinkan untuk digunakan dalam sup dan masakan berbumbu.
5. Leaf Lard
Leaf lard dikenal sebagai jenis lemak babi paling halus dan berkualitas tinggi. Lemak ini berasal dari bagian sekitar ginjal babi dan sangat populer dalam industri pastry. Teksturnya yang lembut dan ringan membuatnya ideal sebagai pengganti mentega dalam adonan kue untuk menghasilkan hasil akhir yang lebih renyah dan empuk.
6. Zhu You / You Zha
Dalam kuliner Tionghoa, minyak babi dikenal dengan sebutan “Zhu You” atau “You Zha”. Minyak ini sangat umum digunakan untuk menumis sayuran, mie goreng, atau nasi goreng. Rasa gurih yang dihasilkan dari minyak ini memberikan cita rasa khas yang sulit digantikan dengan minyak lainnya.
7. Rādo
Di Jepang, minyak babi disebut “Rādo”. Umumnya digunakan dalam pembuatan kaldu ramen atau saus untuk memberikan tekstur lebih kental dan rasa yang lebih kaya. Karena aromanya yang khas, rādo menjadi salah satu rahasia di balik lezatnya kuah ramen yang populer di berbagai negara.
8. Lardo
Berbeda dengan lard biasa, lardo adalah lemak babi yang telah diawetkan menggunakan garam dan rempah-rempah. Proses pengawetan ini biasanya memakan waktu beberapa bulan hingga lemak berubah menjadi padatan yang kaya aroma. Lardo biasanya disajikan dalam potongan tipis sebagai makanan pembuka atau topping hidangan tertentu di Italia dan Eropa.
9. Lardon
Lardon adalah potongan kecil lemak atau daging babi yang digoreng hingga renyah. Umum digunakan dalam masakan Prancis, seperti salad, pasta, atau sup, lardon berfungsi untuk menambahkan rasa gurih dan tekstur pada makanan. Meski terlihat seperti topping biasa, sebenarnya lardon berasal dari bahan yang harus diwaspadai oleh mereka yang tidak mengonsumsi babi.
10. Salo
Salo adalah makanan tradisional dari Ukraina dan negara-negara Eropa Timur lainnya yang terbuat dari lemak babi yang diasinkan. Biasanya disajikan mentah atau sedikit diasap, salo sering dinikmati bersama roti gandum hitam, ditaburi merica, paprika, atau bawang putih. Meski terlihat sederhana, salo memiliki peran penting dalam budaya kuliner di wilayah tersebut.
Bagi kalian yang menghindari produk turunan babi karena alasan agama, kesehatan, atau pilihan gaya hidup, penting untuk mengenali istilah-istilah ini dalam daftar bahan makanan. Selalu periksa label dan tanyakan komposisi makanan secara detail saat makan di luar rumah. [mnd/aje]






