Banyuwangi (beritajatim.com) – Sore itu menjadi kesempatan berharga bisa ikut saat panen kepiting bakau bersama warga. Lokasinya di sebuah dusun yang masuk wilayah Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi.
Satu persatu kepiting bakau yang siap dipanen dibongkar. Jangan bayangkan ini panen di kolam, tapi ini berada di rawa.
Lokasinya benar-benar di tengah rawa dengan hamparan bakau di wilayah Teluk Pang-Pang kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Untuk menuju ke lokasi harus bersama nelayan setempat. Jika tidak, gak bakalan bisa masuk ke area.
Pasalnya, nelayan setempat yang tahu momen dan waktu yang tepat untuk ke lokasi. Mereka hafal betul hitungan waktu untuk pergi ke tempat kepiting bakau tersebut.
Terlebih, mereka memang haru mengetahui pasang surut air laut. Jika tidak, pasti kesulitan.
Pas menunggu 2 jam, sekitar waktu menunjukkan tepat pukul 16.00 WIB, air laut terlihat surut. Bersama para nelayan, akhirnya memutuskan untuk terjun ke lokasi.
Baca Juga:
Final Voli Piala Bupati Banyuwangi Sedot Ribuan Penonton
Lumpur setinggi lutut menjadi tantangan berat. Belum lagi, serangan nyamuk menjadi perlawanan serius saat berada di lokasi. Oleh karena itu, setiap orang yang datang harus bekal obat nyamuk untuk menghalau serangan.
Benar saja, setelah berjalan sekitar 100 meter, onggokan jerigen bekas di sekitar bakau menjadi pemandangan berbeda. Tabung plastik bekas minyak ataupun sejenisnya itu bukanlah sampah. Melainkan, menjadi wadah sekaligus tempat budidaya kepiting bakau.
Jerigen bekas itu disusun sedemikian rupa, ditali berjajar dengan beberapa lubang kecil di sekujurnya. Tanpa pikir panjang, nelayan kemudian menghampiri jerigen bekas itu untuk mengobati penasaran.
Satu kotak jerigen dibuka, ternyata isinya kepiting bakau yang lumayan besar. Lalu nelayan lain memeriksa jerigen-jerigen lainnya yang berjajar di lokasi berbeda.
Dengan cekatan, tangan terampil mereka menangkap setiap kepiting yang siap panen. Meskipun tidak dengan tangan kosong, tapi menggunakan stik kayu untuk membantu mengalihkan perhatian kepiting tersebut.
Setelah menemukan titik tangkap yang pas, nelayan menangkapnya dan mengutas tali melilit tubuh kepiting. Hanya mereka yang ahli atau orang terlatih yang bisa melakukannya, karena cukup bahaya. Meleset sedikit, jari bisa menjadi ancaman capit si kepiting.
Baca Juga:
Warga Banyuwangi Usia 103 Tahun Berangkat Haji
Bagi yang belum pernah melihat, tentunya menjadi pemandangan yang ekstrem. Tapi, semua terbayar lunas dengan keseruan saat menangkap meski dibantu nelayan.
“Belajar lama-lama juga bisa, tapi memang sedikit bahaya,” kata Eko Susanto salah seorang nelayan.
Benar saja, Hadi Maeky salah seorang warga mencoba untuk menangkap kepiting sendiri di dalam jerigen. Mulanya sulit, bahkan butuh waktu lama.
Akhirnya berhasil, tapi ada satu tahapan lain yang harus dilalui. Karena setelah ditangkap, kepiting harus cepat diikat.
“Nangkapnya agak susah, karena kepiting ini agresif. Butuh waktu juga untuk mengikatnya,” ungkap Hadi Maeky pemuda asal Kabupaten Jember itu.
Kepiting yang dipanen itu ternyata bukan sembarang kepiting. Karena, kepiting yang siap dipanen hanya yang memenuhi bobot tertentu saja.
“Ini berusia dua bulan, yang sudah selesai moulting. Ini sekitar bobot 250 gram,” imbuh Eko.
Kepiting di lokasi ini memang merupakan hasil budidaya nelayan setempat. Dengan sistem semi alami mereka memanfaatkan jerigen bekas untuk membesarkan kepiting tersebut.
Hasilnya lumayan, mereka mampu mengendalikan populasi kepiting sekaligus mengontrol harga. Sehingga, mereka mampu berdaya dan ekonomi mereka meningkat. [rin/beq]






