Bojonegoro (beritajatim.com) – Di balik hamparan sumur tua dan tiang-tiang kayu jati di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro tersimpan kisah luar biasa tentang warisan perminyakan tradisional yang kini bertransformasi menjadi kekuatan baru pariwisata Bojonegoro. Dikenal sebagai “Teksas Wonocolo” kawasan ini tak sekadar menjadi destinasi wisata edukasi, tetapi juga harapan besar menuju pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Upaya ini tidak terjadi dalam semalam. Sejak Geopark Bojonegoro ditetapkan sebagai geopark nasional pada 20 November 2017 oleh Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI), pemerintah daerah terus mendorong pengembangan kawasan, termasuk 16 geosite, 3 biosite, dan 8 culture site. Namun, satu lokasi yang paling menonjol dan digadang-gadang sebagai andalan adalah pengeboran minyak tradisional Wonocolo.
“Kami berharap, dengan keunikan pengeboran minyak tradisional di Wonocolo ini, Geopark Bojonegoro dapat diakui secara internasional. Ini bukan hanya tentang pariwisata, tetapi juga tentang pelestarian warisan geologi dan budaya,” ujar Kepala Bappeda Bojonegoro, Achmad Gunawan, Kamis (3/7/2025).
Aktivitas mendulang minyak di Wonocolo telah berlangsung lebih dari satu abad, dilakukan secara manual menggunakan peralatan tradisional seperti tali tambang yang ditarik menggunakan mesin mobil tua dan tiang kayu, para penambang lokal, dengan penuh kearifan, masih mempertahankan metode ini hingga kini.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Welly Fitrama, keunikan metode pengeboran inilah yang menarik perhatian UNESCO. “Wonocolo adalah laboratorium alam yang hidup. Di sini, wisatawan bisa menyaksikan langsung sejarah perminyakan yang masih berjalan, dari sisi geologi maupun sosial-budaya,” jelasnya.
Nama Teksas Wonocolo sendiri merupakan akronim dari “Tekad Selalu Aman dan Sejahtera”, diluncurkan melalui program CSR Pertamina EP Cepu sejak 2016. Tujuannya adalah mengubah citra kawasan berisiko tinggi menjadi destinasi wisata yang aman, edukatif, dan menyejahterakan masyarakat. Tranformasi budaya yang lebih positif antara pengeboran minyak dengan pariwisata agar berdampingan.
Sebagai upaya pengembangan sektor wisata di lokasi pengeboran tradisional itu, pemerintah setempat kemudian membentuk pokdarwis “Little Texas Petroleum” untuk pengelolaan berbasis komunitas. Pembangunan gardu pandang, museum mini, serta fasilitas umum seperti toilet dan tempat parkir. Selain itu juga paket wisata jip dan ojek untuk menjelajahi medan ekstrem di antara sumur tua.
Dengan semua potensi itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kini mengusung Wonocolo sebagai ikon utama dalam pengajuan Geopark Bojonegoro ke UNESCO. Festival Geopark yang digelar 26 Juni hingga 29 Juni 2025 menjadi salah satu momentum penting untuk menggaungkan potensi geopark Bojonegoro secara nasional dan internasional.
“Ini adalah kerja panjang yang melibatkan banyak pihak. Tapi kami yakin, semangat masyarakat Wonocolo dan kekayaan geologis yang dimiliki akan membawa Geopark Bojonegoro ke pengakuan dunia,” ujar Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam kesempatannya.
Setyo Wahono menyampaikan bahwa Bojonegoro memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang unik dan bernilai tinggi. Geopark Bojonegoro bahkan menjadi satu-satunya Geopark di Pulau Jawa yang mengangkat tema Petroleum dan Gas, dengan cadangan minyak bumi dangkal di Desa Wonocolo, tercatat sebagai reservoir terdangkal di Indonesia bahkan dunia, yakni di kedalaman sekitar 100 meter.
“Kami mendukung penuh cita-cita besar seluruh Tim Geopark Nasional Bojonegoro untuk melestarikan dan memberdayakan ekonomi lokal melalui potensi geopark ini. Pemkab siap menyiapkan regulasi, sumber daya, dan infrastruktur sesuai prinsip UNESCO Global Geopark, yakni Pelestarian, Edukasi, dan Pembangunan Berkelanjutan,” jelas Bupati Setyo Wahono.
Teksas Wonocolo kini menjadi contoh nyata bahwa warisan industri bisa disulap menjadi aset pariwisata berbasis edukasi dan konservasi. Lebih dari sekadar kunjungan wisata, tempat ini mengajak pengunjung untuk memahami peran manusia dalam sejarah eksploitasi dan pelestarian sumber daya alam.
Pengakuan dari UNESCO bukan hanya akan mengangkat nama Bojonegoro ke panggung dunia, tapi juga membuka peluang besar bagi ekonomi lokal, pendidikan, dan pelestarian budaya. [lus/but]






