Bondowoso (beritajatim.com) – Di tengah lanskap perbukitan berhutan lebat, terpencil dan sunyi, berdirilah sebuah sekolah dasar dengan kondisi yang tak biasa.
SDN Rejoagung 5, satu dari sekian banyak sekolah di Kabupaten Bondowoso. Ia menjadi simbol perjuangan pendidikan di pelosok Dusun Tol-Tol Timur, Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin.
Di sekolah ini, jumlah siswa hanya delapan orang, tersebar dari kelas 1 hingga 6. Bahkan, tiap jenjang nyaris hanya diisi satu anak. Hanya kelas 3 dan kelas 6 yang masing-masing memiliki dua siswa.
Meski begitu, sekolah ini masih bertahan dengan segala keterbatasan. Baik fasilitas, jumlah siswa, hingga dukungan anggaran operasional.
SDN Rejoagung 5 hanya memiliki tiga ruangan. Dua di antaranya dijadikan ruang belajar gabungan: satu ruangan untuk kelas 1 hingga 3, dan satu lagi untuk kelas 4 hingga 6.
Sementara satu ruang lainnya disekat menjadi ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan kecil, dan dapur seadanya.
Namun yang lebih memprihatinkan, satu dari enam kelas tidak memiliki guru tetap. Kelas 1 belum ada guru khusus.
“Jadi kami siasati dengan sistem bantu dari guru lain,” kata Kepala SDN Rejoagung 5, Hartono pada BeritaJatim.com.
Meski guru kelas berjumlah empat orang dan ditambah dua guru mapel (PJOK dan PAI), distribusi pengajaran tetap menantang karena harus fleksibel dan adaptif.
Di sisi lain, sumber pendanaan sekolah berasal dari dana BOS (Biaya Operasional Sekolah), yang dihitung berdasarkan jumlah siswa aktif di Dapodik.
Dengan jumlah hanya delapan siswa yang tercatat resmi, total dana BOS yang diterima sekolah ini tak sampai Rp 8 juta per tahun.
“Dana itu digunakan untuk pembelian buku, alat tulis, listrik, dan kebutuhan dasar sekolah lainnya. Untuk fisik bangunan, tidak bisa sama sekali,” ujar Hartono.
Bahkan, hingga kini toilet sekolah dalam kondisi rusak berat dan tak bisa digunakan. Para guru terpaksa menumpang ke rumah warga sekitar saat hendak ke kamar kecil.
“Dulu sempat dapat bantuan Rp 60 juta tahun 2020 untuk pengadaan laptop, sofa, dan perabot sekolah. Tapi saat itu saya belum bertugas di sini,” akunya.
Kini, dengan minimnya dana, perbaikan toilet dan keretakan bangunan sekolah tak kunjung bisa direalisasikan.
Hartono berharap ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap sekolah dengan jumlah siswa sedikit.
“Dulu, sekolah dengan jumlah siswa di bawah 60 tetap mendapat BOS setara 60 siswa. Kalau kebijakan itu bisa dihidupkan kembali, kami bisa mengelola sekolah ini lebih layak,” harapnya.
Minimnya siswa di SDN Rejoagung 5 bukan dikarenakan angka minat sekolah warga rendah, melainkan faktor alam.
Kondisi geografis Dusun Tol-Tol Timur menjadi penyebab utama rendahnya jumlah peserta didik. Di kompleks perkampungan itu hanya ada 50 kepala keluarga.
“Rata-rata warga di sana bekerja sebagai pekebun kopi di lahan Perhutani. Sementara rumah tinggal di tanah milik sendiri,” terang Kepala Desa Rejoagung, Kusnadi.
Ia mengonfirmasi bahwa kondisi serupa juga terjadi di Dusun Tol-Tol Barat. Hampir sama terpencilnya. Di sana ada SDN Rejoagung 3. Kondisinya bak pinang dibelah dua.
“Jumlah siswa sangat sedikit karena populasi anak usia sekolah memang sedikit,” beber Kades Kusnadi.
Pemerintah Desa mengaku sudah memperbaiki akses jalan dengan paving sejak 2016. Kontur tanah dan curah hujan tinggi menyebabkan jalan rawan longsor.
“Makanya kami pilih membangun jalan dengan paving dibanding aspal. Sebab bisa lebih awet dan tahan lama,” nilainya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Haeriyah Yuliati, menjelaskan bahwa kondisi sekolah seperti SDN Rejoagung 5 memang menjadi perhatian.
Namun opsi regrouping (penggabungan sekolah) tidak memungkinkan karena jarak antar sekolah terlalu jauh.
“Sekolah terdekat ada di Sukorejo. Tapi jaraknya jauh dan tidak memungkinkan bagi orang tua untuk antar jemput,” jawab Haeriyah dikonfrimasi terpisah.
Karena itulah, SDN Rejoagung 5 tetap dipertahankan demi mendekatkan layanan pendidikan pada masyarakat.
“Karena pendidikan adalah salah satu pelayanan dasar bagi masyarakat. Pemerintah ingin tetap hadir di tengah keterbatasan itu,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tetap komitmen melakukan pemantauan dan perbaikan, terutama menyangkut fasilitas dasar seperti toilet.
“Sudah kami perintahkan tim bidang untuk mendata dan menghitung kebutuhan rehabilitasi toilet. Kami upayakan bisa segera direalisasikan,” tambahnya.
Meski jauh dari sorotan dan statistik megah pendidikan nasional, SDN Rejoagung 5 menyimpan kisah keteguhan para guru dan semangat anak-anak untuk tetap belajar.
Di balik angka delapan siswa SDN Rejoagung 5, tersimpan cita-cita besar yang tak boleh diabaikan. Sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tapi juga menjadi simbol kehadiran negara bagi masyarakat di pinggir peradaban. (awi/ian)







2 Komentar
Sangat menginspirasi, semoga dari sekolah ini muncul bibit tunas bangsa yang akan membangun Indonesia tercinta
Mudah mudahan ilmunya bermanfaat