Jakarta (beritajatim.com) – United States Central Command (CENTCOM) mengumumkan akan memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai Senin, 13 April pukul 10.00 waktu setempat.
Kebijakan ini diambil atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah perundingan nuklir dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Langkah tersebut menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah mengguncang pasar energi global sejak akhir Februari, terutama terkait akses ke Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Negosiasi 21 Jam Berakhir Buntu
Pengumuman blokade muncul beberapa jam setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa perundingan maraton selama 21 jam dengan Iran gagal mencapai kesepakatan. Negosiasi tersebut berlangsung di Islamabad dengan fasilitasi pemerintah Pakistan.
Dalam keterangannya, Vance menegaskan bahwa Iran menolak “tawaran final dan terbaik kami.” Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut delegasi AS “gagal mendapatkan kepercayaan” dari pihak Iran.
Trump juga menuding kegagalan tersebut disebabkan oleh sikap Iran terkait program nuklirnya. Ia menulis di media sosial Truth, “IRAN TIDAK MAU MELEPASKAN AMBISI NUKLIRNYA!”
Detail Blokade dan Operasi Militer
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa blokade akan diberlakukan “secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara” di seluruh pelabuhan Iran yang berada di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.
Namun, mereka memastikan kebebasan navigasi tetap berlaku bagi kapal yang melintas menuju pelabuhan non-Iran melalui Selat Hormuz.
Trump dalam pernyataan terpisah mengatakan telah “menginstruksikan Angkatan Laut kita untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar tol kepada Iran.” Ia juga memperingatkan, “Siapa pun warga Iran yang menembaki kita, atau kapal-kapal damai, akan DIHANCURKAN SAMPAI KE NERAKA!”
Sebagai bagian dari persiapan operasi, dua kapal perusak berpeluru kendali AS, USS Frank E. Petersen Jr. dan USS Michael Murphy, telah melintasi Selat Hormuz untuk menjalankan misi pembersihan ranjau.
Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan pihaknya telah mulai “membuka jalur baru” yang nantinya akan dibagikan kepada industri maritim global.
Respons Iran dan Dampak Global
Dari pihak Iran, Angkatan Laut Garda Revolusi memperingatkan bahwa kapal militer yang mendekati wilayah tersebut akan menghadapi “respons yang tegas dan keras.”
Sejak awal Maret, Iran telah mengendalikan jalur pelayaran di kawasan tersebut dan memberlakukan biaya tol lebih dari 1 juta dolar AS per kapal. Kebijakan ini memperparah ketegangan setelah penutupan akses bagi kapal AS dan sekutunya.
Sebagai jalur yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada harga energi global. Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus lebih dari 113 dolar AS per barel pada akhir Maret.
Senator AS Mark Warner mempertanyakan efektivitas strategi ini. Ia menyatakan, “Saya tidak mengerti bagaimana memblokade selat ini bisa mendorong Iran untuk membukanya.”
Meski demikian, Trump tetap optimistis Iran akan kembali ke meja perundingan. Ia mengatakan, “Saya prediksi mereka kembali dan memberikan semua yang kita inginkan.” (ted)






