Jakarta (beritajatim.com) – Pemerintah diminta menindak tegas produsen herbal nakal menyusul langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang berhasil menarik 19 produk herbal ilegal mengandung bahan kimia obat (BKO) berbahaya.
“Langkah BPOM menarik produk herbal ilegal ini sangat penting dan patut diapresiasi. Tapi jangan berhenti sampai di sini. Pengawasan harus semakin diperketat dan gencar, baik di pasar fisik maupun platform daring. Kesehatan masyarakat adalah prioritas yang tidak boleh dikompromikan,” kata Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKB, Arzeti Bilbina, Rabu (24/9/2025).
Arzeti menegaskan pemerintah melalui BPOM dan kementerian terkait harus memberikan sanksi tegas kepada produsen yang terbukti mencampurkan BKO dalam produk herbal. Menurutnya, tanpa hukuman yang memberi efek jera, praktik berbahaya ini akan terus berulang dan merugikan masyarakat.
“Produsen yang nakal harus diberi sanksi berat. Jangan hanya sekadar peringatan. Ada hukum yang jelas, dan itu harus ditegakkan. Kalau tidak, industri obat tradisional yang seharusnya bisa menjadi kekuatan bangsa akan rusak oleh ulah segelintir pihak yang hanya mencari keuntungan sesaat,” tegas legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Timur 1 yang meliputi Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya tersebut.
Arzeti menilai langkah BPOM merupakan bentuk nyata perlindungan konsumen, namun ia mengingatkan pengawasan harus lebih masif mengingat peredaran obat tradisional dan herbal di Indonesia sangat luas serta mudah diakses masyarakat.
Ia juga menekankan perlindungan konsumen harus melibatkan kolaborasi berbagai pihak: pemerintah, pelaku industri, media, dan masyarakat. Pemerintah bersama BPOM didorong memperkuat regulasi dan melakukan sosialisasi berkelanjutan agar masyarakat lebih sadar akan risiko produk ilegal.
“Komisi IX DPR RI berkomitmen mendukung BPOM dan kementerian terkait dalam memperkuat regulasi serta memastikan penegakan hukum berjalan optimal. Namun masyarakat juga harus berperan aktif. Kewaspadaan bersama akan membuat pasar obat tradisional dan herbal kita lebih sehat dan terpercaya,” katanya.
Selain itu, Arzeti mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam mengonsumsi produk herbal. Ia meminta publik tidak mudah tergiur iklan atau klaim instan, tetapi memastikan produk memiliki izin edar resmi dari BPOM.
“Herbal memang menjadi alternatif sehat yang banyak diminati, apalagi di tengah tren back to nature. Tapi masyarakat jangan asal membeli. Pastikan ada nomor izin BPOM, baca label dengan cermat, dan jangan terpengaruh oleh promosi berlebihan yang sering kali menyesatkan,” ujarnya. [hen/beq]






