Surabaya (beritajatim.com) – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mencatat pertumbuhan positif pada arus peti kemas di Terminal Petikemas (TPK) Ambon. Selama periode Januari hingga September 2024, volume peti kemas yang ditangani mencapai 78.478 TEUs, naik sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku yang mencapai 3,12% pada triwulan II tahun 2024.
Meskipun terjadi peningkatan, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi TPK Ambon. Komoditas yang masuk ke TPK Ambon sebagian besar adalah barang konsumsi dan bahan bangunan yang berasal dari Surabaya dan Jakarta. Sebaliknya, peti kemas yang meninggalkan TPK Ambon didominasi oleh peti kemas kosong. Hal ini mengindikasikan adanya ketimpangan logistik di mana kapal-kapal yang datang ke Ambon membawa banyak muatan, namun kembali dalam kondisi kosong.
Ketua DPW ALFI/ILFA Maluku, H.B. Sirait, menjelaskan bahwa masalah peti kemas kosong merupakan fenomena umum di wilayah timur Indonesia. Kurangnya industri pengolahan di daerah ini menyebabkan terbatasnya komoditas ekspor. Padahal, Maluku memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti kelapa, kopra, pala, cengkeh, rumput laut, dan hasil perikanan.
Untuk mengatasi masalah ini, Sirait menyarankan agar pemerintah daerah melakukan konsolidasi terhadap komoditas hasil bumi di Maluku. Dengan demikian, komoditas tersebut dapat dikontenerisasi dan dikirim ke wilayah lain. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah dan mengurangi jumlah peti kemas kosong yang kembali ke wilayah asal.
Senada dengan Sirait, Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, juga menekankan pentingnya kontainerisasi untuk meningkatkan pertumbuhan arus peti kemas di TPK Ambon. Menurutnya, potensi muatan peti kemas di wilayah timur Indonesia, terutama hasil perikanan, masih sangat besar.
“Pertumbuhan ekonomi hanya mendorong pertumbuhan arus peti kemas secara organik. Perlu upaya non-organik seperti melalui kontainerisasi komoditas dan menjadikan TPK Ambon sebagai pusat transhipment untuk wilayah Kepulauan Maluku,” ujar Siswanto.
Siswanto mengapresiasi upaya SPTP dalam meningkatkan pelayanan di pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur Indonesia. Namun, ia juga mengingatkan bahwa perlu adanya upaya yang lebih sistematis untuk mendorong pertumbuhan arus peti kemas, salah satunya dengan mengoptimalkan potensi komoditas lokal.
Pertumbuhan arus peti kemas di TPK Ambon merupakan kabar baik bagi perekonomian Maluku. Namun, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi, terutama terkait dengan ketimpangan logistik dan kurangnya industri pengolahan. Dengan melakukan kontainerisasi komoditas lokal dan menjadikan TPK Ambon sebagai pusat transhipment, potensi pertumbuhan arus peti kemas di wilayah ini masih sangat terbuka.[rea]






