Surabaya (beritajatim.com)- Selain garam dapur biasa, kini ada jenis garam lain yang mulai dikenal masyarakat, yaitu garam Himalaya atau pink salt. Garam ini memiliki warna merah muda khas dan sering digunakan dalam masakan maupun untuk penerapan gaya hidup sehat. Meski terlihat mirip, garam Himalaya dan garam dapur ternyata memiliki beberapa perbedaan, mulai dari asal, proses pengolahan, hingga kandungannya.
Perbedaan Garam Himalaya dan Garam Dapur
Perbedaan utama garam dapur dan garam Himalaya terletak pada asal serta proses pengolahannya. Garam dapur biasanya berasal dari air laut atau tambang garam, lalu dimurnikan agar sebagian besar isinya menjadi natrium klorida. Garam ini juga umumnya ditambah zat anti-penggumpal supaya tetap kering dan mudah digunakan.
Sementara itu, garam Himalaya berasal dari Tambang Garam Khewra di Pakistan, dekat Pegunungan Himalaya. Proses pengolahannya lebih sederhana dan tidak banyak melalui pemurnian, sehingga sering dianggap lebih alami.
Warna merah muda pada garam Himalaya berasal dari kandungan zat besi dan mineral lain di dalamnya. Garam ini juga mengandung mineral seperti magnesium, kalium, dan kalsium, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Meski berbeda warna dan proses pengolahan, kedua jenis garam ini sama-sama didominasi natrium klorida dengan kadar sekitar 96–99 persen.
Kandungan Yodium Jadi Pembeda Penting
Salah satu perbedaan utama ada pada kandungan yodium. Garam dapur umumnya sudah diperkaya yodium yang penting untuk menjaga kesehatan kelenjar tiroid dan membantu mencegah gondok.
Sebaliknya, garam Himalaya memiliki kandungan yodium yang jauh lebih sedikit karena tidak melalui proses fortifikasi. Karena itu, jika seseorang hanya menggunakan garam Himalaya tanpa sumber yodium lain, tubuh bisa berisiko kekurangan yodium.
Selain itu, kadar natrium pada kedua jenis garam sebenarnya hampir sama. Artinya, jika dikonsumsi berlebihan, keduanya tetap dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
Mana yang Lebih Baik?
Pada dasarnya, kedua jenis garam bisa digunakan sesuai kebutuhan dan selera masing-masing. Garam Himalaya biasanya dipilih karena tampilannya unik dan melalui proses pengolahan yang lebih sederhana, sedangkan garam dapur lebih umum digunakan karena praktis dan mengandung yodium.
Yang terpenting, konsumsi garam tetap perlu dibatasi. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyarankan asupan natrium tidak lebih dari 2.300 mg per hari, atau setara sekitar satu sendok teh garam. [Meychel Salsabyla]






